You and Me Never Walk Alone

Showing posts with label jersey. Show all posts
Showing posts with label jersey. Show all posts

Sunday, March 16, 2014

CFD Boyolali Pelopori Keselamatan Berlalu Lintas

Kegiatan kampanye Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas (GNPKB) dilaksanakan secara serentak di seluruh Kepolisian Daerah di Indonesia. Kegiatan bertujuan untuk mengajak semua masyarakat sebagai pelopor keselamatan berlalu lintas, guna mencegah dan mengurangi angka kecelakaan di jalan raya. Hari ini, minggu (16/03/2014) bertepatan pelaksanaan Car Free Day, Polres Boyolali Unit Dirlantas mengajak seluruh masyarakat Boyolali untuk mensukseskan GNPKB.
Siapa Kita? Saya, Pelopor, Keselematan, Berlalu Lintas.
Berikut Dokumentasinya :







Panggung Hiburan :





Saturday, September 7, 2013

Tiago Ilori Sempurnakan Lini Belakang Liverpool

Liverpool kembali menyambut kedatangan pemain anyar musim panas ini.

Klub Liga Premier itu memastikan bergabungnya bek Sporting Braga, Tiago Ilori, meski tidak menyebutkan tebusan yang dibayarkan kepada klub Portugal itu.

Ilori adalah pemain belakang ketiga yang diboyong ke Anfield Stadium sepanjang bursa musim panas. Sebelumnya Liverpool lebih dulu memboyong Kolo Toure dari Manchester City dan juga mendapatkan Aly Cissoko dari klub Spanyol, Valencia.

Ilori akan menjadi tenaga baru di lini pertahanan The Reds, julukan Liverpool, menyusul cedera yang dialami Sebastian Coates. Pemain asal Uruguay itu mengalami masalah lutut dan hampir dipastikan absen pada sebagian besar laga musim ini.

“Aku mengetahui soal sejarah klub [Liverpool] dan dalam pendapatku Liga Premier adalah liga terbaik di dunia,” ungkap Ilori, seperti dikutip Reuters dari situs resmi Liverpool, Senin (2/9/2013).

“Liverpool memiliki tim yang hebat dan aku pikir inilah saatnya untukku bergabung dengan mereka. Aku tahu ada banyak klub hebat lain di sini [Inggris] pada masa lalu dan Liverpool memenangi banyak gelar dan aku ingin menjadi bagian di sini,” lanjutnya.

The Reds memang berupaya memanfaatkan detik-detik terakhir bursa transfer musim panas dengan melakukan pendekatan kepada sejumlah pemain lain. Selain Tiago Ilori, Liverpool berharap meminjam Victor Moses dari Chelsea dan mendatangkan bek Paris Saint Germain (PSG), Mamadou Sakho.

sumber: solopos.com

Mimpi Oezil di Gudang Peluru

Pemain baru Arsenal Mesut Oezil menyebut The Gunner sebagai salah satu tim terkuat di dunia. Ia pun menyatakan akan cocok bermain di klub sepak bola London Utara ini karena filosifi sang manager yang sama dengan dirinya.

“Arsenal adalah satu dari tim-tim yang terkuat secara teknik di dunia. Manajer selalu ingin bermain atraktif dan menyerang. Saya pikir saya cocok dengan itu karena saya menikmati bermain cepat, sepakbola satu sentuhan,” ujarnya.

Oezil juga berharap bisa meneruskan rekor gemilangnya dalam urusan mencetak assist. Ketika ditanya apakah ia menilai assist lebih berharga daripada gol.

“Ya tentu saja. Assist berujung pada kesuksesan dan saya adalah tipe pemain yang lebih suka mengkreasi gol. Saya pikir banyak rekan setim saya tahu bahwa saya adalah pemain yang tidak egois,” kata Oezil kepada Arsenal Player seperti dikutip Detiksport.

“Sangat menyenangkan bagi saya ketika saya mengkreasi banyak gol atau mencetak gol itu sendiri. Tapi yang paling penting adalah bahwa tim saya mencapai tujuan yang diinginkan dan memainkan sepakbola positif,” ujar pemain kelahiran Gelsenkrichen, Jerman Barat ini.

Oezil resmi bergabung ke tim London Utara itu dengan nilai 42,5 juta poundsterling dari Real Madrid dan dikontrak selama lima musim ke depan. Kedatangannya menjadi harapan baru bagi publik Emirates Stadium untuk mengakhiri puasa gelar Arsenal.

Mengawali karier di Schalke 04, pemain 24 tahun ini dicatat transfermarkt membukukan satu gol dan lima assist saja dari total 39 laga semua kompetisi. Kebintangannya baru tampak saat ia hijrah ke Werder Bremen pada Januari 2008.

Di Bremen ia turun sebanyak 108 kali, mencetak 16 gol, dan menorehkan 55 assist. Persentasenya membuat assist per pertandingan adalah 51%.

Hal ini berlanjut di Madrid. Di klub ibukota Spanyol itu, pemain keturunan Turki ini mencatatkan 159 kali penampilan. Ia membukukan 27 gol dan membuat 81 assist. Persentasenya sekitar 51% assist per pertandingan.

Jumlah persentase yang hampir sama juga diukirnya di level timnas. Selama 47 kali bermain bersama timnas Jerman, ia membuat 24 assist dan 14 gol.

Sinar Oezil pun diduga tidak akan redup di ‘Gudang Peluru’. Apalagi ia diyakini bakal diberi kepercayaan penuh oleh Manajer Arsenal Arsene Wenger, sesuatu yang diakui Oezil tak didapatkannya di Madrid di masa-masa terakhirnya di sana.

Oezil pribadi mengaku yakin tak bakal kesulitan beradaptasi dengan tim barunya yang mengusung permainan menyerang dan mengandalkan umpan-umpan pendek. 

sumber; solopos.com

Santo Iker Tumbal Perdamaian Madrid-Barca

Pelatih Timnas Spanyol, Vicente del Bosque, mengungkapkan  Iker Casillas kehilangan tempat di skuat utama Real Madrid ketika era Jose Mourinho karena sang kiper membantu mendinginkan ketegangan Madrid-Barcelona demi terciptanya harmonisasi di skuat Timnas Spanyol.

Saat Mourinho masih menangani Madrid, duel el clasico kerap diwarnai ketegangan, meski beberapa pertemuan terakhir, bentrok yang mempertemukan Madrid dan Barcelona semakin minim kontroversi.

“Benar, dalam momentum sulit untuk tim nasional, ketika duel Real-Barca agak menegang, dia [Casillas]…membantu tim untuk tetap maju dan melanjutkan kemenangan seperti ketika di Euro [2012],” beber Del Bosque kepada stasiun radio Onda Cero, dilansir Reuters, Jumat (6/9/2013).

“Itu tidak berlangsung bagus dan itu mungkin juga memberi efek merugikan bagi Iker,” jelas mantan entrenador Real Madrid itu.

“Dia adalah tokoh kunci dalam membina kerukunan di tim nasional,” terangnya.

Ketegangan mencapai puncak pada Agustus 2011, ketika Mourinho mencolok mata Tito Vilanova yang saat itu menjadi asisten pelatih Barcelona, saat duel Piala Super Spanyol. Perselisihan itu berpotensi ikut memperkeruh hubungan pemain Timnas Spanyol yang mengenakan kostum dua klub, Real Madrid (Casillas, Sergio Ramos, Xabi Alonso dan Avlaro Arbeloa) dan Barcelona (Xavi dan Carles Puyol).

Casillas pun mencoba mendinginkan suasan dengan bertemu Xavi serta Puyol. Hal itu, menurut Del Bosque, ikut menjadi alasan keputusan Mourinho untuk mencadangkan Casillas dan digantikan Diego Lopez di palang pintu utama Madrid pada akhir musim lalu.

Meskipun faktanya, setelah terjadi pergantian pelatih di Real Madrid dari Mourinho ke Carlo Ancelotti, Casillas belum berhasil kembali ke posisinya semula sebagai kiper utama Los Blancos. Kiper Barcelona, Victor Valdes, yang sedang mencapai performa sempurna bersama klubnya digadang-gadang akan menjadi kiper utama ketika Timnas Spanyol bertemu Finlandia pada laga Grup I Kualifikasi Piala Dunia 2014, Zona Eropa, di Helsinki, Sabtu (7/9/2013) dini hari WIB.

sumber:  solopos.com

Tuesday, April 9, 2013

Bambang Pamungkas Mengaku Sebagai Generasi yang Gagal


Pada dasarnya setiap manusia itu sama, yang membedakan mereka adalah cara berpikir, bersikap,
bertindak serta bereaksi setiap individu terhadap segala permasalahan yang menghampiri mereka.”

22 Maret 2013

Malam sudah cukup larut, waktu menunjukkan pukul 23:35 malam. Dari jendela tampak di luar tengah turun hujan. Hanya gerimis memang, tapi cukup untuk membuat udara malam ini menjadi semakin dingin. Sebuah sosok berperawakan sedang bertelanjang dada, tengah duduk terpaku di pojok sebuah ruangan. Dalam suasana remang-remang di sebuah apartemen di jalan Rue de Caumartin, Paris.

Tatapan matanya kosong, raut wajahnya tampak beku, pikirannya jauh melambung membelah dingin dan basahnya langit malam ini. Dengan rambut acak-acakan serta kumis dan jenggot yang tampak mulai memanjang tak beraturan, membuat wajah orang ini tampak lusuh dan sedikit lebih tua dari umurnya.

Lelaki tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah Bambang Pamungkas. Iya, lelaki itu adalah saya sendiri. Sudah lama saya membuat keputusan ini, dan sudah lama pula sebenarnya saya ingin menulis artikel ini. Akan tetapi entah mengapa, hati saya masih merasa begitu berat untuk sekedar menyampaikannya kepada khalayak ramai.

Hingga tiga hari yang lalu, di mana saya menerima sebuah kabar menyedihkan dari jarak 11.574 kilometer dari sini. Sebuah “peristiwa” yang sejujurnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan diri saya. Namun, kejadian tersebut membuat saya meyakini, bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menyampaikan kepada masyarakat, mengenai masa depan saya.

Awalnya saya pikir semuanya akan berjalan dengan mudah. Tinggal merangkai kata, upload ke blog pribadi dan kemudian  menyebarluaskan melalui akun twitter saya. Selesai perkara. Tetapi pada kenyataannya tidak semudah yang terpikir di benak saya. Butuh waktu lama untuk pada akhirnya saya berani untuk menulisnya. Padahal keputusan ini sudah saya ambil sejak empat bulan yang lalu. Iya, sejak empat bulan yang lalu.

Bagi mereka yang memperhatikan penampilan saya di perhelatan Piala AFF 2012, maka sejatinya ada hal yang tidak biasa tersaji di sana. Ketika itu pada detik-detik terakhir, saya memutuskan untuk menggunakan nama “PAMUNGKAS”, dari pada “BAMBANG” seperti yang biasa saya kenakan di jersey tim nasional saya.

Tentu hal tersebut bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Indonesia, kata pamungkas memiliki arti “menjadi yang terakhir”. Maka begitu pula dengan perjalanan karier saya bersama tim nasional. Saat itu saya memutuskan bahwa pagelaran Piala AFF 2012 akan menjadi penampilan resmi terakhir saya, bersama tim nasional Indonesia.

Bergabungnya saya ke tim nasional Indonesia ketika itu, bukanlah menjadi sebuah pilihan yang mudah. Pilihan yang saya ambil tersebut, bertentangan dengan kebijakan klub yang saya bela Persija Jakarta. Dan juga institusi di mana klub saya berafiliasi, dalam hal ini Liga Super Indonesia dan KPSI.

Pilihan tersebut jelas bukan tanpa risiko, baik bagi saya secara pribadi maupun masa depan karier sepakbola saya. Banyak orang yang menganggap saya ingkar janji, tidak sedikit yang menganggap saya sebagai seorang pengkhianat. Akan tetapi saya adalah saya, pribadi yang selalu berusaha untuk berkata benar jika memang benar, dan mengatakan salah jika memang demikian adanya, dengan apa pun risikonya.

Sesaat setelah latihan perdana bersama skuad tim nasional Indonesia, jelang AFF Cup 2012. Di sebuah pancuran air Gelora Bung Karno, saya berkata kepada salah satu sahabat saya. Keputusan saya untuk bergabung dengan tim nasional bukanlah sebuah pilihan, tetapi sebuah keharusan. Karena saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya jika saya tidak melakukannya. Dan setelah itu saya akan berhenti untuk selamanya.

Hal tersebut juga telah saya sampaikan kepada staf Badan Tim Nasional Indonesia. Oleh karena itu, ketika nama saya kembali masuk dalam daftar pemain untuk Kualifikasi Piala Asia 2015, saya menolak untuk hadir.

Berani mengambil sikap dengan apapun hasil dari pilihan yang kita ambil, adalah dua hal yang berbeda. Mengambil sebuah keputusan murni berada di tangan setiap individu. Sedang hasil dari keputusan yang kita ambil acap kali tergantung dari banyak hal, termasuk kehendak dari sang Maha Pencipta.

Sebagian orang berpikir bahwa saya sudah gila, karena mengorbankan seluruh reputasi dan karier saya, demi sebuah tim yang sudah diprediksi banyak orang akan mengalami kegagalan. Sebagian lagi berpikir saya salah melangkah, karena pada akhirnya tim nasional Indonesia harus kembali tersungkur dan bersimbah darah, di AFF Cup 2012.

Mereka berpikir saya telah merusak kredibilitas dan reputasi dengan menumpahkan tinta hitam di atasnya. Tetapi, tidak demikian bagi saya pribadi. Saya merasa telah mengakhiri perjalanan panjang bersama tim nasional, dengan sebuah kebanggaan dan kehormatan, setidaknya sebagai sebuah pribadi yang merdeka.

Rasa terima kasih dan hormat saya yang setinggi-tingginya, saya ucapkan kepada seluruh komponen tim nasional Indonesia di Piala AFF 2012. Orang-orang yang dalam segala keterbatasan dan tekanan publik yang begitu hebat, tetap berdiri di garda paling depan untuk memperjuangkan harkat dan martabat bangsa Indonesia melalui sepakbola.

Dengan apa pun hasilnya, menjadi sebuah kebanggaan besar bagi saya mengakhiri karier tim nasional saya, bersama rekan-rekan semua. Mati sebagai pemain tim nasional (pensiun) dengan cara seperti itu, membuat saya merasa sangat bahagia. Berjuang sampai titik darah penghabisan atas nama bangsa dan negara, dengan segala kendala dan risiko yang harus dihadapi, membuat saya merasa telah mati dengan cara yang sangat terhormat.

Terima kasih yang tidak terhingga untuk seluruh pendukung tim nasional Indonesia di manapun berada. Mereka yang dengan fanatisme luar biasa dan tak kenal lelah, selalu berdiri di belakang panji-panji tim nasional Indonesia. Mereka yang selalu bernyanyi, menari, dan berteriak menyemangati dalam setiap perjuangan saya bersama tim nasional Indonesia. Tidak lupa permohonan maaf saya yang sebesar-besarnya, karena selama karier saya bersama tim nasional Indonesia, tidak sekalipun saya mampu memberikan kebahagiaan untuk kalian semua.

Tanggal 23 Maret 2013, merupakan hari bersejarah bagi sepakbola Indonesia, khususnya tim nasional. Karena setelah sekian lama terbelah menjadi dua, pada hari itu tim nasional Indonesia kembali berada di bawah satu berdera. Dan untuk pertama kalinya setelah cukup lama, stadion utama Gelora Bung Karno kembali memerah dipenuhi pendukung militan tim nasional Indonesia.

Dengan atau tanpa muatan tertentu, langkah penyatuan tim nasional Indonesia layak diberi apresiasi positif yang setinggi-tingginya. Setidaknya, di dalam lubuk hati mereka yang paling dalam, ternyata masih ada rasa sebangsa dan setanah air. Walaupun mungkin kesepakatan tersebut, dilandasi oleh negosiasi-negosiasi tertentu.

Sedangkan bagi saya pribadi, melihat para pemain nasional kembali bergairah untuk memenuhi panggilan negara dan bersatu kembali dalam satu bendera tim nasional Indonesia, tentu menjadi sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Bukankah hal tersebut yang selama ini “kita” perjuangkan bersama-sama?

Menjadikan kembali tim nasional Indonesia sebagai representasi kekuatan terbaik sepakbola di Indonesia. Mengembalikan kesakralan sebuah tim nasional, yang akhir-akhir ini disepelekan oleh orang-orang yang bertindak atas nama kepentingan-kepentingan tertentu. Serta menjadikan kembali Gelora Bung Karno sebagai tempat yang angker bagi siapapun tim lawan yang hadir di sana, dengan suasana riuh serta gegap gempita dari seluruh pendukung merah-putih. Itu adalah hal yang selalu kita perjuangkan, selama dua tahun terakhir.

Selamat berjuang untuk talenta-talenta terbaik sepakbola Indonesia. Kibarkanlah panji-panji kebesaran sepakbola kita setinggi-tingginya. Bermainlah untuk dirimu, orang-orang yang kamu cintai (keluarga), dan lambang Garuda di dadamu (rakyat Indonesia).

Keputusan ini mungkin mengingkari janji saya sendiri tiga belas tahun lalu, janji setia saya kepada tim nasional Indonesia. Akan tetapi dengan segala dinamika dan pergolakan yang terjadi dalam sepakbola Indonesia, selama dua tahun terakhir. Membuat saya merasa yakin, jika sekarang adalah saat yang tepat bagi saya untuk melakukannya. Lagi pula dengan nama-nama mumpuni di barisan depan tim nasional Indonesia saat ini, rasanya tenaga saya sudah tidak lagi terlalu dibutuhkan.

Saya mengawali tiga belas tahun karier saya bersama tim nasional dengan sebuah harapan besar, dan mengakhirinya dengan sebuah kemenangan besar. Sebuah kemenangan dari segala bentuk pemaksaan kehendak terhadap diri saya. Kemenangan diri saya atas nama sebuah kebebasan untuk mengungkapkan pendapat, menentukan sikap, serta bertindak atas nama sebuah hal yang saya yakini akan kebenarannya.

Boleh saja orang menilai saya sebagai seorang pengkhianat dari kelompok saya, tetapi satu hal yang pasti, bahwa saya tidak pernah mengkhianati hati dan profesi saya. Sebuah profesi yang sangat saya cintai dan banggakan, sebagai pemain sepakbola.

Pada akhirnya saya memang harus menerima kenyataan, bahwa tidak ada satu gelar bergengsi yang mampu saya berikan untuk Indonesia. Dan oleh karena itu seperti yang pernah saya janjikan, maka di akhir artikel ini saya akan berteriak dengan lantang, jika “Saya Adalah Generasi Yang Gagal.”

Melalui tulisan ini, maka secara resmi saya menyatakan mundur dari tim nasional Indonesia.

“Cepat atau lambat, jersey merah-putih itu pasti akan tanggal dari badanku. Akan tetapi satu hal yang pasti, lambang garuda itu akan tetap melekat di dada kiriku, tinggal di sana sampai akhir hayatku.”

“Garuda di Dadaku, Garuda Kebanggaanku”

Selesai….

NB: Tulisan ini saya buat pada 22 Maret 2013.

Tulisan diatas dicopy dari sportsatu.com tanpa perubahan isi.
follow  bepe : @bepe20
web: bepe20

Friday, March 1, 2013

Replika Jersey Nottingham Forest 1958 - 2012



Nottingham Forest shirts and soccer jerseys, 1958 - 2012
All Shirts 
????
Home
(1 shirt)
????
Goalkeeper
(1 shirt)
????
Unknown
(1 shirt)
1958 - 1959
Home
(1 shirt)
1977 - 1980
Away
(1 shirt)
1977 - 1981
Home
(4 shirts)
1978 - 1979
Away
(1 shirt)
1979 - 2004
Training/Leisure
(2 shirts)
1979
Goalkeeper
(1 shirt)
1981 - 1982
Home
(1 shirt)
1982 - 1983
Away
(1 shirt)
1982 - 1983
Away
(1 shirt)
1982 - 1984
Home
(1 shirt)
1982 - 1984
Home
(1 shirt)
1984 - 1986
Home
(2 shirts)
1984 - 1986
Home
(1 shirt)
1984 - 1986
Home
(1 shirt)
1986 - 1987
Home
(1 shirt)
1986 - 1988
Home
(1 shirt)
1987 - 1988
Home
(1 shirt)
1988 - 1989
Home
(2 shirts)
1988 - 1989
Away
(2 shirts)
1989 - 1991
Away
(1 shirt)
1990 - 1991
Home
(1 shirt)
1990 - 1991
Home
(3 shirts)
1990 - 1991
Home
(1 shirt)
1990 - 1991
Goalkeeper
(1 shirt)
1991 - 1992
Home
(1 shirt)
1991 - 1992
Away
(1 shirt)
1991 - 1993
Away
(1 shirt)
1992 - 1993
Home
(1 shirt)
1992 - 1993
Away
(2 shirts)
1992 - 1993
Third
(1 shirt)
1993 - 1994
Goalkeeper
(1 shirt)
1993 - 1995
Away
(1 shirt)
1994 - 1995
Away
(1 shirt)
1994 - 1996
Home
(3 shirts)
1995 - 1996
Special
(1 shirt)
1995 - 1997
Away
(5 shirts)
1996 - 1997
Home
(4 shirts)
1996 - 1997
Away
(1 shirt)
1996 - 1997
Goalkeeper
(1 shirt)
1996 - 1997
Training/Leisure
(2 shirts)
1997 - 1998
Home
(1 shirt)
1997 - 1999
Away
(1 shirt)
1997 - 1999
Goalkeeper
(1 shirt)
1998 - 1999
Away
(1 shirt)
1998 - 1999
Third
(1 shirt)
1998 - 2000
Home
(2 shirts)
1999 - 2000
Goalkeeper
(1 shirt)
1999 - 2001
Away
(1 shirt)
2000 - 2001
Away
(2 shirts)
2000 - 2002
Home
(2 shirts)
2001 - 2002
Goalkeeper
(1 shirt)
2002 - 2003
Home
(1 shirt)
2002 - 2003
Away
(1 shirt)
2003 - 2004
Home
(4 shirts)
2003 - 2005
Away
(1 shirt)
2003 - 2005
Third
(1 shirt)
2004 - 2006
Home
(1 shirt)
2005 - 2007
Third
(4 shirts)
2006 - 2007
Home
(3 shirts)
2006 - 2007
Third
(2 shirts)
2007 - 2008
Goalkeeper
(1 shirt)
2007 - 2009
Away
(1 shirt)
2007 - 2009
Third
(1 shirt)
2008 - 2009
Home
(5 shirts)
2009 - 2010
Home
(2 shirts)
2009 - 2010
Away
(1 shirt)
2010 - 2011
Home
(1 shirt)
2010 - 2011
Away
(1 shirt)
2011 - 2012
Home
(1 shirt)

thanks to old jersey