You and Me Never Walk Alone

Showing posts with label Liverpool. Show all posts
Showing posts with label Liverpool. Show all posts

Wednesday, January 7, 2015

Gerrad Akan Tinggalkan Liverpool Akhir Musim ini

Kabar bahwa Steven Gerrard bakal meninggalkan klub dibenarkan klub. Sang kapten, yang sejak awal kariernya hanya membela The Reds, dipastikan meninggalkan klub begitu musim ini selesai.

"Liverpool FC mengonfirmasi bahwa Steven Gerrard akan meninggalkan klub begitu musim 2014/2015 selesai," demikian statemen yang dilansir situs resmi Liverpool.

"Kapten The Reds itu menutup tirai dari karier-nya yang begitu gemerlap di Anfield yang sudah terbentang selama 17 tahun dan diisi dengan 10 buah trofi. Dia sudah tampil 695 kali dan mencetak 180 gol sampai hari ini sejak bergabung dengan akademi klub pada usia 8 tahun."

Kendati demikian, Gerrard belum akan gantung sepatu. Beberapa kabar menyebut, dia akan bermain di MLS. Namun, kubu Liverpool belum bisa memastikan ke mana Gerrard akan bermain selanjutnya.

Liverpool hanya menyebut, Gerrard akan melanjutkan kariernya di luar Britania Raya.

"Gerrard belum akan pensiun dari dunia sepakbola profesional setelah musim 2014/2015 berakhir."

"Belum ada keputusan soal klub barunya, tapi dia akan melanjutkan kariernya di luar Britania Raya dan di klub yang tidak akan menjadi saingan langsung dari Liverpool."

Kontrak Gerrard akan habis begitu musim ini selesai. Kabar bahwa dia akan pergi meninggalkan klub beredar sejak tak ada tanda-tanda penandatanganan kontrak baru.

sumber : detik sport

Friday, July 18, 2014

Ngabuburit Bareng Kopites Boyolali

Tanggal 29 Juni 2014 Hari Minggu, sebagian punggawa Kopites Boyolali kopdar di Taman Kota Kridanggo Boyolali, hasilnya adalah
  1. Menetapkan tanggal lahir Kopites Boyolali (insyaalloh Bigreds Chapter Boyolali) adalah 12 April
  2. Menetapkan Koordinator Kopites Boyolali adalah saudara
  3. Anggota yang hadir Alwi,  bangashari, tJo, trisuarez, benu, hayu', dst 
Berikut Ini adalah hasil dokumentasinya :



















 
 

Monday, June 9, 2014

Brace Fowler Menangkan Football Legends

Mantan gelandang AC Milan, Gennaro Gatusso, mengaku puas bertanding melawan Indonesia All Star pada laga uji coba di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (7/6/2014). Meski penonton di dalam stadion sepi, ia tetap menilai laga tersebut menyenangkan.

Laga itu berakhir untuk kemenangan Football Legends 5-2. Lima gol Football Legends dicetak Robbie Fowler (2 gol), Luis Figo, Gianluca Zambrotta, dan Louis Saha. Indonesia All Star memperkecil kedudukan berkat torehan Bambang Pamungkas dan Gendut Doni.
Football Legends Menangi pertandingan atas Indonesia All Star

"Sangat disayangkan penonton yang hadir tidak banyak. Meski begitu, saya tetap senang menjalani pertandingan ini," kata Gattuso seusai pertandingan di SUGBK.

"Bisa melihat mantan pemain terbaik dunia bertanding dalam satu tim sungguh menyenangkan. Saya harap seluruh penonton yang hadir di stadion terhibur dengan penampilan kami," tambahnya.

Sementara itu, pendapat sama pun dikemukakan Fowler dan Mikael Silvestre. "Ini pertandingan yang bagus. Laga ini tidak mudah dan saya memberi apresiasi untuk Indonesia All Star karena mereka berhasil mencetak dua gol," kata Silvestre.

"Saya sependapat dengan Mikael. Kami sangat menikmati pertandingan ini. Meskipun suhu di sini cukup panas, kami tetap senang menjalani pertandingan ini dengan pemain-pemain bertabur bintang," tambah Fowler.

Sumber : kompas bola

Pasukan "Alien" Bantu Uruguay

Pelatih tim nasional Uruguay, Oscar Tabarez, tetap membawa Luis Suarez ke Brasil, meski striker Liverpool itu masih berkutat dengan cedera lutut pada kaki kirinya.

Suarez menjadi satu dari lima penyerang Uruguay yang dibawa Tabarez. Selain Suarez, Tabarez juga menyertakan Edinson Cavani, Diego Forlan, Cristian Stuani, dan Abel Hernandez.
Timnas uruguay banyak diisi pemain dari klub non-uruguay

Yang menarik, Uruguay diisi oleh 23 pemain yang tampil membela klub-klub "alien" alias di  luar negari. Tidak ada satu pun pemain dari klub lokal yang dipanggil Tabarez.

Di Piala Dunia 2014, Uruguay bakal tergabung di Grup D bersama Inggris, Italia, dan Kosta Rika.

Berikut ini adalah skuad Uruguay di Piala Dunia 2014:

Kiper: Fernando Muslera (Galatasaray/Turki), Martín Silva (Vasco Da Gama/Brasil), Rodrigo Munoz (Libertad/Paraguay)

Bek: Diego Lugano (West Bromwich Albion/Inggris), Diego Godin (Atletico Madrid/Spanyol), Jose Maria Gimenez (Atletico Madrid/Spanyol), Martin Caceres (Juventus/Italia), Maximiliano Pereira (Benfica/Portugal), Jorge Fucile (Porto/Portugal), Sebastian Coates (Nacional/Uruguay).

Gelandang: Egidio Arevalo Rios (Morelia/Meksiko), Walter Gargano (Parma/Italia), Diego Perez (Bologna/Italia), Alvaro Gonzalez (Lazio/Italia), Alvaro Pereira (San Pablo/Brasil), Cristian Rodríguez (Atletico Madrid/Spanyol), Gaston Ramirez (Southampton/Inggris), Nicolas Lodeiro (Botafogo/Brasil)

Striker: Luis Suarez (Liverpool/Inggris), Edinson Cavani (Paris Saint-Germain/Perancis), Diego Forlan (Cerezo Osaka/Jepang), Cristian Stuani (Espanyol/Spanyol), Abel Hernandez (Palermo/Italia)

Senjata Muda di Piala Dunia 2014

FIFA merilis 36 pemain calon kandidat Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2014. Calon kandidat merupakan pemain-pemain yang harus lahir setelah tanggal 1 Januari 1993.

Pada edisi sebelumnya, penghargaan ini jatuh ke tangan gelandang serang Jerman, Thomas Mueller. Saat itu, Mueller sukses mencetak lima gol dan tiga assist yang juga menjadikannya sebagai pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2010.
Striker Inggris dari Tim Liverpool FC, Raheem Sterling

Berikut ini adalah calon-calon kandidat Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2014:

1. Luis Lopez (Honduras)
2. DeAndre Yedlin (Amerika Serikat)
3. Matthias Ginter (Jerman)
4. Raphael Varane (Perancis)
5. Sead Kolasinac (Bosnia-Herzegovina)
6. Adam Taggart (Australia)
7. Alireza Jahan Bakhsh (Iran)
8. Romelu Lukaku (Belgia)
9. John Brooks (Amerika Serikat)
10. Oliver Zelenika (Kroasia)
11. Jose Gimenez (Uruguay)
12. Stefanos Kapino (Yunani)
13. Nabil Bentaleb (Aljazair)
14. Julian Draxler (Jerman)
15. Terence Kongolo (Belanda)
16. Alex Oxlade-Chamberlain (Inggris)
17. Avan Mocinic (Kroasia)
18. Rafa (Portugal)
19. Eder Balanta (Kolombia)
20. Julian Green (Amerika Serikat)
21. Ante Rebic (Kroasia)
22. Lucas Digne (Perancis)
23. Andy Najar (Honduras)
24. Divock Origi (Belgia)
25. Fabrice Olinga (Kamerun)
26. Paul Pogba (Perancis)
27. Raheem Sterling (Inggris)
28. Adnan Januzaj (Belgia)
29. Mateo Kovacic (Kroasia)
30. Juan Quintero (Kolombia)
31. Ross Barkley (Inggris)
32. Memphis Depay (Belanda)
33. Kenneth Omeruo (Nigeria)
34. Carlos Gruezo (Ekuador)
35. Sayouba Mande (Pantai Gading)
36. Luke Shaw (Inggris)

sumber : kompas.com

Tuesday, October 15, 2013

Duet SAS ungguli "Batman and Robin"

Bersiaplah menghadapi kebangkitan Liverpool musim ini. Begitu kira-kira pesan yang disampaikan The Reds pada para pesaingnya di Liga Primer Inggris. Performa duet Luis Suarez dan Daniel Sturridge atau yang kerap dijuluki SAS, seakan menyulut hasrat skuat The Reds untuk mengembalikan kebesaran nama Liverpool.

Sejak awal 1990-an kejayaan The Reds sebagai tim paling sukses di Liga Inggris memang tinggal cerita. Pemegang 18 juara Liga Primer itu tenggelam oleh dominasi Manchester United hingga kini. Namun harapan kembali muncul dengan kehadiran duet penyerang mereka sekarang. Liverpool bertengger di papan atas bersama Arsenal dengan poin kembar 16 dari 7 pertandingan.

Performa gemilang kedua pemain tersebut membuat mereka mulai dibanding-bandingkan dengan duet striker lain. Yaitu, Sutton dan Shearer, yang mana berhasil membawa Blackburn Rovers menjadi juara Premier League pada tahun 1995 silam.

Tidak hanya Sutton dan Shearer, Wayne Rooney dan Robin Van Persie juga dijadikan pembanding performa Suarez dan Sturridge. Dan sejauh ini, media Inggris beranggapan bahwa performa yang ditampilkan duo SAS tersebut berada di atas ‘Batman and Robin’ milik United. Namun tentunya penilaian tersebut masih akan terus berlanjut mengingat jalannya kompetisi masih panjang.


Daniel Sturridge sudah 14 kali menjebol gawang lawan dari 14 penampilan terakhir bersama The Reds. Hingga pekan ketujuh musim ini, Sturridge menjadi penyerang tersebur dengan koleksi 6 gol.

Sementara itu Suarez tidak buang-buang waktu usai kembali dari sanksi larangan bermain pada 10 pertandingan. El Pistolero langsung menyumbangkan tiga gol pada tiga laga untuk Liverpool.

Kehadiran duo penggedor pertahanan lawan itu membuat Liverpool sanggup menutup mata terhadap badai cedera yang sedang mereka alami. Saat ini skuat asuhan Brendan Rodgers tidak bisa diperkuat oleh pemain-pemain seperti Philippe Coutinho, Glen Johnson, dan Aly Cissokho yang mengalami cedera.

“Saya rasa semua orang mulai menyadari bila mereka memiliki kerja sama yang alamiah. Semakin kompak kerja sama mereka, semakin bermanfaat bagi mereka dalam urusan mencetak gol,” ujar Managing Director Liverpool, Ian Ayre, dikutip Sky Sports.“Kami mulai menjadi tim yang diakui dan semoga kami bisa terus meningkatkan ketika tim kami sudah lengkap,” sambung Ayre.

Duet SAS juga mendapat pengakuan secara terpisah. Manajer tim, Brendan Rodgers, mengaku senang terhadap komitmen yang ditunjukkan oleh Luis Suarez bersama klubnya. Seperti yang dirumorkan sebelum musim ini bergulir, pemain asal Uruguay itu dikabarkan ingin hengkang ke Real Madrid atau Arsenal.“Anda bisa melihat etos kerja dan keinginannya untuk mendapatkan bola yang lebih baik di dalam kotak penalti, dan itu persis yang kami inginkan. Komitmen dia tidak usah diragukan lagi. Sikap yang ditunjukkan Luis sangat sesuai dengan yang kami inginkan,” kata Rodgers di situs resmi klub.

Pria asal Irlandia Utara itu mengaku sedang menuntut Steven Gerrard, cs untuk menunjukkan peningkatakan performa. Sejauh ini, Rodgers menilai Suarez merupakan pemain yang mampu membawa The Reds memenuhi tuntutan itu. “Dengan pemain seperti Luis, kami bisa mencapai tuntutan yang kami inginkan sesuai standar kami setiap saat,” ujar eks manajer Swansea City.

Pujian untuk Sturridge datang dari mulut kapten tim, Steven Gerrard. Gelandang yang juga menjabat sebagai kapten tim nasional Inggris itu mengaku terkejut Sturridge disebut arogan setelah bangkit dari keterpurukan semasa berkarier bersama Manchester City dan Chelsea.Selain karena memang bakatnya yang besar, Gerrard yakin yang dibutuhkan Sturridge adalah manajer yang mampu membangun tim yang bisa menunjang pemuda 23 tahun itu sebagai penyerang utama.

“Saya pernah melihat permainan dia di City dan Chelsea, namun dia justru brilian di Liverpool, bahkan lebih baik dari perkiraan saya. Dia berbeda. Dia semakin tajam, memiliki teknik bagus, dan bisa mencetak berbagai macam gol,” ujar Gerrard di Sky Sports. Deodatus

Statistik SAS
(di EPL 2013/14)
Daniel Sturridge    
Main (7)              
Gol  (6)        
Asis (2)       
Tendangan (22)       
Luis Suárez
Main (2)        
Gol (3)
Asis (0)
Tendangan (9)

Tiago Ilori Terinspirasi Der Kaiser dan Carra

Tiago Ilori mengakui bahwa ia banyak belajar mengenai taktik bertahan dari dua pemain yang bermain di era yang berbeda - Franz Beckenbauer dan legenda Liverpool Jamie Carragher.

Ia akhirnya pindah ke Liverpool pada hari terakhir transfer musim panas lalu dan pemain muda Portugal itu menggambarkan Carragher sebagai inspirasi.

Masih berada di awal karirnya, pemain 20 tahun tersebut mengerti bahwa masih banyak ruang untuk menjadi lebih baik di tahun-tahun berikutnya di klub dan ia ingin memenuhi semua ambisinya.

"Saya mengaguminya sebagai pemain," sebut Ilori tentang Carragher.

"Kami berbeda - dia telah melakukan segalanya di sepakbola dan saya belum melakukan apa-apa. Ini juga berarti dalam segi permainan kami.

"Kami berbeda tapi saya menghormatinya untuk apa yang telah ia lakukan bersama Liverpool Football Club.

"Saya bisa menjadi agresif jika diperlukan tapi itu bukanlah bagian dari permainan saya. Saya pikir saya cukup cepat. Saya senang memainkan bola dan mencoba membangun serangan dari belakang. Saya juga senang maju ke depan saat bola-bola mati.

"Anda melihat dari posisi yang Anda mainkan dan saya diberi tahu mengenai Franz Beckenbauer dan saya melihat banyak videonya ketika saya beranjang besar.

"Saya menghormati semua pemain belakang yang dapat meraih sukses tapi saya akan sangat bahagia jika dapat bermain seperti Beckenbauer."

Walaupun kedua pemain telah memutuskan pensiun, Ilori tidak kehabisan nama untuk dijadikan contoh. Adalah Mamadou Sakho yang datang di waktu yang sama dengannya ke Liverpool untuk menguatkan sektor lini belakang the Reds bersama-sama dengan Kolo Toure, Martin Skrtel, Daniel Agger dan Sebastian Coates.

Ia menambahkan, "Ada kompetisi tapi saya selalu tidak sabar untuk latihan dengan pemain-pemain ini dan belajar bersama mereka.

"Mamadou dan saya datang ke Liverpool menggunakan pesawat yang saya - ia datang dari Perancis dan saya dari Portugal. Kami mendapatkan kesempatan untuk berbincang karena ia juga dapat berbicara dalam bahasa Inggris dan sangat menyenangkan dapat bertemu dengannya.

"Saya akan melakukan yang terbaik dan beradaptasi dan jika saya dapat langsung bermain maka itu akan luar biasa. Saya akan senang sekali, tentu, tapi saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Apa yang saya ketahui adalah saya akan berjuang untuk setiap tantangan.

"Ini bukanlah pilihan yang sulit dan saya pikir adalah keinginan setiap pemain untuk datang ke Inggris dan bermain di Premier League, dan dapat memenuhinya bersama Liverpool adalah kesempatan besar.

"Ini lebih mengenai apakah ini waktu yang tepat untuk melangkah. Tapi saya membuat keputusan yang benar dan saya bahagia berada di sini."

Agger minta Liverpool tetap fokus demi Liga Champions

Sejak 2009-10, The Reds tak pernah lagi berkompetisi di ajang tersebut. Karena itulah, bek asal Denmark itu menargetkan timnya untuk kembali merasakan kompetisi paling bergengsi di Eropa tersebut.

"Kami ingin kembali bertanding di kompetisi antarklub Eropa, khususnya Liga Champions," kata Agger.

Kendati demikian, Agger tak mau melihat terlalu jauh. Dia tetap ingin timnya fokus dari pertandingan ke pertandingan terlebih dulu.

"Kami memasang target untuk setiap pertandingan yang akan dilakoni. Memang, mustahil untuk selalu menang. Tapi, kami masuk ke lapangan dengan target untuk meraih kemenangan," tambah Agger.

Melihat start apik yang ditunjukkan Liverpool musim ini, Agger optimistis target tersebut bisa terpenuhi. Dia hanya berharap tren positif itu terus berlanjut.

"Tak ada yang pasti di Premier League. Kami hanya perlu mendulang poin dan melihat seberapa jauh bisa melangkah," tandasnya.

sumber: indolfc

Saturday, September 7, 2013

Impian Gerrard Setelah Gantung Sepatu

Kapten Timnas Inggris dan Liverpool, Steven Gerrard, untuk kali pertamanya mengungkapkan mimpinya untuk menjadi manajer The Reds.

Gerrard mulai memikirkan masa depannya setelah melihat rekan setimnya, Jamie Carragher, gantung sepatu pada akhir musim lalu. Setelah pensiun, Carragher tidak lantas menganggur. Dia cukup sukses menjadi seorang kolumnis di Daily Mail dan menjadi pundit untuk Sky Sports.

Lantas apa mimpi Gerrard setelah pensiun nanti? Gelandang berusia 33 tahun tersebut mengaku ingin menjadi manajer di Anfield, markas Liverpool. Dalam sebuah wawancara dengan Sky Sports News, yang dipandu presenter Hayley McQueen dalam wentyfour7 Football magazine, Gerrard pun tanpa malu mengungkapkan mimpinya tersebut.

“Mimpi akan menjadi kenyataan apabila menjadi melatih Liverpool, ketika jabatan di Liverpool bisa ditempati [dalam kondisi kosong]. Ada manajer kelas dunia yang siap mengambil tugas itu namun kami akan menunggu dan melihatnya, itu akan menjadi seperti hiasan di atas kue,” beber Gerrard, dilansir Daily Mail, Kamis (5/9/2013).

“Ketika Anda mencapai usia tertentu, dalam umurku saat ini, Anda perlu mulai memikirkan secara serius [karier] setelah sepak bola. Saya hanya memperpanjang kontrak setahun, saya perlu mulai merencanakan masa depan. Saya melakukan tugasku dan lolos dalam lebih 12 bulan ke depan,” sambung dia.

“Saya sangat jelas melihatku sebagai seorang manajer dibandingkan pelatih, namun itu bisa berubah. Saya masih ingat ketika bicara dengan Jamie Carragher dan dia sangat tertarik dengan itu, namun dia kemudian memutuskan bekerja di media seperti yang dia ingin lakukan,” terang Gerrard.

“Saya asing melihatnya di Sky, namun saya benar-benar senang atas apa yang sudah dilakukannya itu,” terang Gerrard, yang sedang mempersiapkan diri bersama Timnas Inggris melawan Moldova pada kualifikasi Piala Dunia 2014 di Stadion Wembley, Sabtu (5/9/2013). 

sumber; solopos.com

Tiago Ilori Sempurnakan Lini Belakang Liverpool

Liverpool kembali menyambut kedatangan pemain anyar musim panas ini.

Klub Liga Premier itu memastikan bergabungnya bek Sporting Braga, Tiago Ilori, meski tidak menyebutkan tebusan yang dibayarkan kepada klub Portugal itu.

Ilori adalah pemain belakang ketiga yang diboyong ke Anfield Stadium sepanjang bursa musim panas. Sebelumnya Liverpool lebih dulu memboyong Kolo Toure dari Manchester City dan juga mendapatkan Aly Cissoko dari klub Spanyol, Valencia.

Ilori akan menjadi tenaga baru di lini pertahanan The Reds, julukan Liverpool, menyusul cedera yang dialami Sebastian Coates. Pemain asal Uruguay itu mengalami masalah lutut dan hampir dipastikan absen pada sebagian besar laga musim ini.

“Aku mengetahui soal sejarah klub [Liverpool] dan dalam pendapatku Liga Premier adalah liga terbaik di dunia,” ungkap Ilori, seperti dikutip Reuters dari situs resmi Liverpool, Senin (2/9/2013).

“Liverpool memiliki tim yang hebat dan aku pikir inilah saatnya untukku bergabung dengan mereka. Aku tahu ada banyak klub hebat lain di sini [Inggris] pada masa lalu dan Liverpool memenangi banyak gelar dan aku ingin menjadi bagian di sini,” lanjutnya.

The Reds memang berupaya memanfaatkan detik-detik terakhir bursa transfer musim panas dengan melakukan pendekatan kepada sejumlah pemain lain. Selain Tiago Ilori, Liverpool berharap meminjam Victor Moses dari Chelsea dan mendatangkan bek Paris Saint Germain (PSG), Mamadou Sakho.

sumber: solopos.com

Saturday, August 17, 2013

Profil Simon Mignolet

Pemain Belgia, Simon Mignolet, menambah kekuatan Liverpool di sektor penjaga gawang ketika memutuskan pindah dari Sunderland pada Januari 2013. 

Meski bermimpi bermain sebagai pemain outfield, kiper berusia 25 tahun itu justru tampil cemerlang ketika dipercaya menjaga gawang klub kota kelahirannya, Sint-Truiden. Perkembangannya di level junior begitu pesat. 

Total. Mignolet tampil dalam 104 laga bersama Sint-Truiden. Dia mengantarkan klubnya meraih tiket promosi ke kasta tertinggi Liga Belgia pada 2008-09, kala menjuarai kompetisi kasta kedua. 

Salah satu momen terindah Mignolet terjadi pada musim tersebut. Dia menyumbangkan satu gol. Itu terjadi pada di Ronse, April 2009. Tendangan Mignolet sebagai eksekutor penalti sempat ditepis. Namun, bola pantul langsung disambarnya dan menjebol gawang lawan. 

Kehadiran Mignolet juga meningkatkan kepercayaan diri di lini belakang. Tampil 39 kali, dia membawa Sint-Truden finis di posisi lima besar dan meraih tiket play-off. 

Penampilan apiknya membuat sejumlah klub Eropa tertarik. Sunderland beruntung bisa mendapatkan Mignolet setelah tawaran dua juta pounds diterima Sint-Truiden.

Keberadaan Craig Gordon membuat Mignolet mengawali karir di Stadium of Light sebagai pemain cadangan. Cedera yang menimpa kiper utama asal Skotlandia itu membuat Mignolet naik pangkat dan membuka kesempatannya untuk unjuk kebolehan. 

Keunggulan Mignolet terletak pada refleks, keberanian beradu satu lawan satu, dan mengomandoi lini belakang. Dia lantas menjadi pilihan nomor satu di Sunderland. 

Kepercayaan pun didapatkan dari timnas Belgia pada 2011. Ketika dia dipercaya tampil pada kualifikasi Euro 2012 melawan Austria pada Maret 2011. 

Hingga saat ini, dia sudah 13 kali berseragam Red Devils, julukan timnas Belgia. Termasuk persahabatan melawan Inggris pada Juni 2012. Dia bersaing ketat dengan Thibaut Courtois sebagai kiper utama Belgia untuk Piala Dunia tahun depan. 

Musim 2012-13, Sunderland memang tampil labil dan nyaris terdegradasi. Tapi, Mignolet tetap tampil konsisten seperti sejak pertama kali datang. 

Dia tampil dalam 38 pertandingan Premier League. Sebelas di antaranya dilalui dengan tanpa kebobolan. Status yang membuatnya berada di posisi kelima untuk kiper terbaik. 

Kecakapan Mignolet juga bisa dilihat pada musim tersebut. Dia melakukan 149 kali penyelamatan. Jumlah itu hanya kalah dari Jussi Jaaskelainen. 

Hal itu membuat sejumlah klub Eropa tertarik untuk merekrutnya. Termasuk Liverpool pada musim panas ini. 

Keinginan manajer Brendan Rodgers pun terpenuhi pada Juni ini. Mignolet resmi bergabung ke Anfield pada 25 Juni

berikut cuplikan bio mignolet via wikipedia:
Mignolet playing for Liverpool in 2013
Personal information
Full nameSimon Mignolet[1]
Date of birth6 March 1988 (age 25)
Place of birthSint-TruidenBelgium
Height1.93 m (6 ft 4 in)[2]
Playing positionGoalkeeper
Club information
Current clubLiverpool
Number22
Youth career
2004–2006Sint-Truiden
Senior career*
YearsTeamApps(Gls)
2006–2010Sint-Truiden100(1)
2010–2013Sunderland90(0)
2013–Liverpool1(0)
National team
2003Belgium U161(0)
2004Belgium U172(0)
2005–2006Belgium U1811(0)
2006–2007Belgium U193(0)
2009Belgium U201(0)
2008–2010Belgium U2110(0)
2011–Belgium13(0)
* Senior club appearances and goals counted for the domestic league only and correct as of 12:26, 17 August 2013 (UTC).
† Appearances (Goals).
‡ National team caps and goals correct as of 21:37, 08 June 2013 (UTC)














Saturday, June 29, 2013

Penyakit Hooliganism

Inggris pernah menjadi “tanah air” kerusuhan sepak bola.  Di negara itulah fenomena hooligans kali pertama muncul. Sempat menjadi "penyakit", kini hooliganism di Eropa, khususnya di Inggris, sudah mampu dijinakkan. Bagaimana di Indonesia?

Kerusuhan suporter sepakbola di Inggris awalnya kerap terjadi di tahun 1880an. Namun, penggunaan kata hooligans untuk menggambarkan kerusuhan suporter di sepakbola baru terjadi pada pertengahan 1960an. Seperti dikutip dari Liverpool's Football Industry Group, penggunaan kata hooligans mulai ramai digunakan media-media Inggris di era 1960an.

Kata Hooliganism dipakai oleh media Inggris untuk menujukkan suatu sikap perusak, rusuh, antisocial, dan tak tahu aturan. Ada beberapa versi asal kata hooligans. Seperti dilansir History House, salah satunya diambil dari nama sebuah geng yang meresahkan London pada 1894an, The Hooligan Boys.

Pada akhir 1970an hingga pertengahan 1980an, hooligans terus mencoreng persepakbolaan Inggris. Suporter The St George's Cross ketika itu memiliki reputasi terburuk di seluruh Eropa. Bahkan masalah hooligans sempat dianggap sebagai "English Disease" atau penyakit Inggris.

Dua Tragedi: Heysel dan Hillsborough

Ada dua insiden yang sangat mencoreng persepakbolaan Inggris, yakni tragedi Heysel pada 29 Mei 1985, dan tragedi Hillsborough pada 15 April 1989.

Pada tragedi Heysel, Brussels, Belgia, saat duel Liverpool lawan Juventus di final European Cup (kini Liga Champions), tercatat 39 suporter meninggal, dan 600 lainnya luka-luka. Suporter Liverpool dinyatakan bersalah, dan imbasnya klub-klub Inggris dilarang tampil di kompetisi Eropa selama lima tahun.

Korban jiwa lebih banyak terjadi di tragedi Hillsborough. Pada pertandingan semifinal Piala FA antara Liverpool melawan Nottingham Forest, 96 suporter meninggal. Kedua tragedi itu membuat pemerintah Inggris kian serius menanggulangi kerusuhan suporter.

Pada 1986, pemerintah Inggris mengeluarkan peraturan The Public Order Act, yang mengizinkan pengadilan melarang seorang suporter datang ke stadion. Setelah itu muncul undang-undang Football Spectators Act 1989, yang melarang hooligans terhukum menghadiri pertandingan internasional.

Dua tahun kemudian muncul The Football Offences Act 1991, yang secara khusus melarang suporter melempar barang ke dalam lapangan, dan nyanyian rasial. Namun, rentetan undang-undang itu tidak membuat hooligans kapok.

Pada perhelatan Piala Eropa 2000, hooligans kembali membuat ulah di Charleroi, Belgia. Ketika itu ratusan perusuh itu ditangkap polisi sebelum dan setelah laga Inggris melawan Jerman. Pasca-kerusuhan itu, pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang Football (Disorder) Act 2000.

Dalam undang-undang Football (Disorder) Act 2000, pemerintah Inggris benar-benar mengontrol hooligans. Bahkan dalam salah satu pasal di undang-undang itu disebutkan, hooligans yang bermasalah harus menyerahkan paspor mereka selama jadwal pertandingan internasional, agar tak bisa pergi ke luar negeri. Hasilnya, Inggris mampu mengontrol hooligans hingga kini.

Untuk mengontrol suporter di Premier League, klub-klub juga membantu Asosiasi Sepakbola Inggris (FA). Klub-klub Premier League akan menghukum penonton atau melarang mereka ke dalam stadion jika membuat kerusuhan. Kontrol itu bisa dilakukan melalui dicabutnya kartu anggota klub dan tiket musiman sang suporter.

Senjata memperbanyak CCTV di sekitar stadion juga ampuh di Inggris. Dengan demikian, polisi bisa mengidentifikasi suporter pembuat onar. "Sekarang bukan masalah Anda bisa bebas dalam satu hari. Karena adanya CCTV, enam bulan kemudian, Anda bisa ditangkap," ujar salah satu dedengkot hooligans Birmingham City The Zulus, Wally, seperti dikutip dari The Guardian.

Bagaimana Indonesia?

Di Indonesia, dalam skala berbeda, kerusuhan suporter sepakbola juga kerap terjadi. Tak jarang kerusuhan itu makan korban jiwa. Sayang, meski sepakbola jadi olahraga nomor satu, hingga kini Indonesia, tak punya undang-undang khusus mengatur suporter sepakbola.

Persaingan suporter di Indonesia melibatkan sejumlah kelompok suporter, seperti The Jakmania (suporter Persija), Viking (kelompok suporter Persib), Aremania (Arema) dan Bonek (Persebaya). Namun, belakangan persaingan The Jakmania, dan Viking yang sering menjadi sorotan utama.

Penyerangan bus tim Persib Bandung oleh suporter The Jakmania, Sabtu 22 Juni 2013, adalah contoh teranyar. Bahkan tahun lalu, tiga suporter tewas usai pertandingan Persija melawan Persib di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Kehadiran The Jakmania dianggap bak buah simalakama. Di satu sisi kehadiran mereka sangat penting di stadion untuk mendukung Persija, dan pemasukan klub, tapi di sisi lainnya tak jarang The Jakmania melakukan kerusuhan. Kondisi itu membuat Persija beberapa kali harus menjalani laga kandang tanpa penonton, bahkan sempat mengungsi dari Jakarta.

Banyak cara dilakukan Jakmania mengantisipasi kerusuhan suporter. Salah satunya mengontrol suporter melalui kartu anggota. Selain itu Jakmania memiliki pengamanan internal pada hari H pertandingan Persija. Bahkan Jakmania sudah melakukan MoU dengan Polda Metro Jaya.

Beberapa poin MoU itu adalah menjaga kota Jakarta tetap aman saat laga Persija, berdisiplin taat tertib berlalulintas ketika pertandingan Persija, dan bekerjasama menindak setiap anggota Jakmania yang melanggar hukum. Sayang, sejumlah langkah itu belumlah cukup.

Viking sendiri tak punya langkah khusus mengatasi kerusuhan suporter. Ketua Viking, Heru Joko, kepada VIVAnews mengatakan pihaknya sudah tak lagi memakai sistem kartu anggota. Namun, hal itu tidak langsung membuat Viking melakukan kerusuhan.

"Kami akui kami kecolongan mengenai aksi sweeping mobil berpelat B akhir pekan lalu. Tapi, sebelum-sebelumnya Viking sudah jarang rusuh. Ke depannya, kami ingin memperbanyak aksi damai bersama Bobotoh," ucap Heru.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Rikwanto, mengatakan pihaknya selalu terbuka dengan Jakmania. Namun, Rikwanto menegaskan Polda Metro Jaya tak akan segan-segan menghukum suporter yang melanggar hukum.

Khusus pertandingan tunda Persija melawan Persib, 28 Agustus 2013, Rikwanto menyarankan agar laga digelar di tempat netral. Sayang, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah perseteruan antara Jakmania dan Viking.

"Solusinya yakni penegakan hukum, antar keduanya melakukan pertemuan, dan sanksi dari PSSI. Kami menyarankan, ke depan pertandingan antara Persija dengan Persib tak dilakukan di Jakarta, di daerah netral saja. Ini untuk mengantisipasi jatuhnya korban," ujar Rikwanto.

Menggelar pertandingan tanpa penonton, pembekuan izin pertandingan, dan partai usiran, terkesan menjadi salah satu cara pihak kepolisian mengantisipasi kerusuhan suporter. Perlu diingat, sepakbola adalah hiburan masyarakat Indonesia, mulai dari kelas bawah hingga atas.

Perlu dicari cara efektif mengantisipasi kerusuhan suporter. Nyawa seseorang terlalu berharga untuk melayang gara-gara rusuh sepakbola. Dan, lagi pula, menonton sepakbola bukanlah tindakan kejahatan.


sumber

Wednesday, April 24, 2013

Kisah 96 Malaikat Merseyside


Persembahan untuk 96 Malaikat Merseyside
Liverpool FC Indonesia  6:00 AM

Jujur, awalnya saya merasa tak memiliki kapasitas untuk menulis insiden ini. Ya, saya kadang menulis sesuatu
yang berkaitan langsung dengan sepak bola. Entah berita, gosip, bahkan nyinyiran berbagai hal (termasuk tim sendiri). Tapi kali ini saya akan mencoba memberikan opini tentang salah satu tragedi paling menyesakkan di dunia sepak bola. Terkhusus untuk fans Liverpool, 15 April 1989, Saat dimana tragedi Hillsborough melenyapkan nyawa 96 orang tak berdosa. Saat itu laga semifinal Piala FA antara Liverpool melawan Nottingham Forest.

Saya tak ingin bercerita panjang mengenai kronologis insiden tersebut. Sebagian besar dari kita pasti sudah tahu mengenai 96 saudara yang datang dengan niat baik itu, harus meregang nyawa karena tergencet dan terinjak-injak itu. Kapasitas stadion yang tak memadai memaksa para suporter terjebak. Saling berebut masuk, akhirnya korban pun berjatuhan.

Entah gila atau stres, ketika pihak kepolisian South Yorkshire, tiba-tiba berperan seperti polisi Indonesia pada umumnya. Ya, saat itu mereka lebih seperti mafia yang sama sekali tidak memberi bantuan untuk suporter yang minta tolong.

Menjadi lebih gila ketika Sang Media yang mengaku sebagai "Matahari"nya media di Inggris, membuat pernyataan palsu berjudul The Truth, beberapa hari setelah tragedi itu. "Suporter memanfaatkan korban dan mencuri","Suporter mengencingi polisi", "Suporter dengan sengaja datang pada waktu mepet". Ironis ketika kebohongan tersebut terurai jelas ke seluruh Inggris dan terpampang di cover sebuah koran. Kevin MacKenzie is the man.

Tak ayal, seluruh masyarakat Liverpool yang sedang berduka pun dipastikan mencap The Sun sebagai media pembohong. Liverpool memastikan diri anti terhadap The Sun mulai saat itu hingga kini. Namun, keadilan itu belum didapatkan. Keadilan itu masih dicari dan seorang ibu bernama Margaret Aspinall pun membuat sebuah organisasi bernama Hillsborough Family Support Group.

Perjuangan mereka sangat jelas untuk mencari fakta sebenarnya dan keadilan untuk anak serta kerabat mereka yang menjadi korban. Ironis ketika Perdana Menteri Inggris, David Cameron, baru mengakui itu 24 tahun kemudian.

Meski sudah mengakui kesalahan terjadi pada pihak kepolisian saat itu, tetap saja keadilan masih ditunggu. Berbagai tim di belahan dunia pun masih terus memberikan penghormatan untuk Liverpool. Di Jerman, ada Duo Borussia yang paling setia. Borussia Monchengadbach memberikan dana sangat besar sesaat setelah tragedi terjadi dan Borussia Dortmund, salah satu klub yang memiliki fans paling "Gila" di ranah Jerman, acap kali membuat banner "Justice For The 96" dan bernyanyi YNWA.

Duo Rival Abadi di Skotlandia, Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers pun memberikan tribut yang luar biasa untuk Tragedi Hilsborough. Everton menjadi klub yang dengan setia mendampingi Liverpool. Mereka membuat kota Liverpool seperti tak ada rivalitas. Mereka juga merasakan hal yang sama dan beberapa dari mereka pun ada yang kerabatnya "pergi" karena tragedi Hillsborough.

Jika ingin menyebut siapa saja klub yang memberi simpati untuk Tragedi ini, rasanya artikel ini tak kunjung selesai. Hari ini, tepat 24 tahun Insiden Hillsborough. Saya belum pernah memberikan donasi langsung kepada HFSG. Saya hanya bisa memberi simpati dan dukungan dari kaos yang saya pakai tiga kali seminggu. Kaos bertuliskan angka 96 layaknya nomor punggung. Ketika rekan-rekan kerja saya sampai bosan melihat saya memakai kaos itu, itu hanya sekedar semangat dan doa yang saya berikan untuk mereka 96 malaikat luar biasa.

Ya, saya hanya bisa membuat tato dengan gambar obor dan angka 96 di pergelangan tangan kanan. Hal-hal kecil seperti itu yang baru bisa saya lakukan. Mudah-mudahan ketika datang saatnya nanti, saya dan seluruh suporter Liverpool di Indonesia dapat memberikan penghormatan lebih untuk Tragedi paling menyedihkan di dunia sepak bola ini.

Dan tulisan ini. Jelas tulisan saya sangat tidak mendalam mengenai Tragedi Hillsborough. Karena masih banyak perjuangan luar biasa dari para pejuang Hillsborough yang belum saya tuliskan disini.

Saya menulis ini dengan tangan gemetar dan mata basah. Tulisan ini setidaknya akan kekal abadi. Tulisan ini untuk mereka yang tidak mendapat keadilan. Tulisan ini untuk Margareth Thatcher yang sedang menari-nari di neraka paling dalam bernama Jahanam.

Kalian boleh menghina klub kami yang tidak juara Liga Inggris selama 20 tahun-an. Kalian boleh menyerang kami sebagai tim paling tak konsisten di Inggris. Tapi jika kalian menyerang Tragedi Hillsborough, jangan kaget jika reaksi kami layaknya pasukan tentara Indonesia saat melawan Belanda dan Jepang jelang kemerdakaan 1945.

JUSTICE FOR THE 96!!!

@FakeRegista

Tulisan diatas sepenuhnya (c) dari http://indolfc.blogspot.com

Tuesday, April 9, 2013

Alderweireld Pilih Liverpool


Alderweireld menilai Newcastle hanya klub papan tengah Inggris, dan memilih Liverpool.

Bek Ajax Amsterdam Toby Alderweireld membuka peluang untuk hijrah ke Liverpool pada bursa transfer musim panas nanti.

Alderweireld belakangan ini menjadi perhatian sejumlah klub Liga Primer Inggris, seperti Manchester United, Newcastle United, dan Everton, serta mengamati performanya di Eredivise Belanda.

Liverpool juga ikut berburu pemain berusia 24 tahun ini, mengingat Jamie Carragher bakal pensiun pada akhir musim. Selain itu, kritikan terhadap barisan belakang The Reds juga menjadi pertimbangan.

Kubu Liverpool menganggap pemain asal Belgia tersebut sesuai dengan proyek jangka panjang mereka. Alderweireld juga menyatakan, tidak ingin memperkuat klub kelas menengah bila hijrah ke Liga Primer.

“Saya tidak ingin bermain dengan klub papan tengah Inggris. Tak seperti Newcastle, Liverpool sesuai dengan kriteria saya,” kata Alderweireld kepada suratkabar Belgia Het Nieuws.

sumber

Friday, March 1, 2013

Replika Jersey Liverpool 1950 - 2013

Classic Football Shirts

1950
Cup Shirt
(1 shirt)

1953 - 1954
Retro Replicas
(1 shirt)

1955 - 1962
Home
(1 shirt)

1955 - 1962
Retro Replicas
(1 shirt)

1964 - 1968
Away
(1 shirt)

1968 - 1969
Retro Replicas
(1 shirt)

1968 - 1973
Away
(1 shirt)

1970 - 1971
Home
(2 shirts)

1971 - 1972
Home
(1 shirt)

1972 - 1973
Home
(2 shirts)

1972 - 1974
Home
(1 shirt)

1973
Special
(1 shirt)

1975 - 1976
Home
(2 shirts)

1975 - 1976
Away
(1 shirt)

1976
Goalkeeper
(1 shirt)

1977
Retro Replicas
(1 shirt)

1977 - 1979
Home
(4 shirts)

1977 - 1980
Goalkeeper
(1 shirt)

1978
Cup Shirt
(1 shirt)

1978
Retro Replicas
(1 shirt)

1979
Third
(2 shirts)

1979 - 1980
Away
(2 shirts)

1979 - 1982
Home
(1 shirt)

1979 - 1982
Home
(2 shirts)

1979 - 1982
Away
(4 shirts)

1980 - 1981
Home
(2 shirts)

1980 - 1982
Special
(2 shirts)

1980 - 2008
Training/Leisure
(7 shirts)

1981
Retro Replicas
(1 shirt)

1981 - 1982
Third
(3 shirts)

1981 - 1982
Goalkeeper
(1 shirt)

1982 - 1984
Away
(2 shirts)

1982 - 1984
Away
(1 shirt)

1982 - 1985
Home
(7 shirts)

1982 - 1985
Home
(3 shirts)

1983 - 1984
Goalkeeper
(1 shirt)

1983 - 1985
Home
(1 shirt)

1984
Retro Replicas
(1 shirt)

1984 - 1985
Away
(3 shirts)

1985 - 1986
Home
(2 shirts)

1985 - 1986
Retro Replicas
(1 shirt)

1985 - 1987
Away
(2 shirts)

1986 - 1987
Home
(3 shirts)

1986 - 1987
Third
(3 shirts)

1986 - 1987
Goalkeeper
(1 shirt)

1987 - 1988
Home
(3 shirts)

1987 - 1988
Away
(3 shirts)

1987 - 1988
Away
(2 shirts)

1988 - 1989
Home
(1 shirt)

1988 - 1989
Away
(4 shirts)

1988 - 1989
Third
(2 shirts)

1989 - 1990
Goalkeeper
(1 shirt)

1989 - 1991
Home
(6 shirts)

1989 - 1991
Away
(3 shirts)

1991 - 1992
Home
(1 shirt)

1991 - 1992
Away
(2 shirts)

1991 - 1992
Goalkeeper
(1 shirt)

1992
Special
(1 shirt)

1992 - 1993
Home
(3 shirts)

1992 - 1993
Away
(3 shirts)

1993 - 1994
Special
(1 shirt)

1993 - 1995
Home
(8 shirts)

1993 - 1995
Away
(6 shirts)

1993 - 1995
Goalkeeper
(1 shirt)

1994 - 1995
Goalkeeper
(1 shirt)

1994 - 1996
Third
(5 shirts)

1995 - 1996
Home
(5 shirts)

1995 - 1996
Home
(4 shirts)

1995 - 1996
Away
(2 shirts)

1995 - 1996
Away
(1 shirt)

1995 - 1996
Special
(1 shirt)

1995 - 1996
Goalkeeper - CLASSIC for sale
(1 shirt)

1995 - 1997
Goalkeeper
(1 shirt)

1996 - 1997
Away
(7 shirts)

1996 - 1997
Away
(1 shirt)

1996 - 1997
Special
(1 shirt)

1996 - 1997
Goalkeeper - CLASSIC for sale
(1 shirt)

1996 - 1997
Womens Teams
(1 shirt)

1996 - 1997
Womens Teams
(1 shirt)


1996 - 1998
Home
(9 shirts)


1996 - 1998
Goalkeeper
(2 shirts)


1996 - 1998
Special
(1 shirt)


1997 - 1998
Home
(1 shirt)


1997 - 1998
Goalkeeper
(1 shirt)


1997 - 1999
Away
(4 shirts)


1998 - 1999
Goalkeeper
(1 shirt)


1998 - 2000
Home
(6 shirts)


1998 - 2000
Away
(4 shirts)


1998 - 2000
Away
(1 shirt)


1998 - 2000
Special
(1 shirt)


1999
Goalkeeper
(1 shirt)


1999 - 2000
Away
(4 shirts)


1999 - 2000
Goalkeeper
(1 shirt)


1999 - 2000
Special
(1 shirt)


1999 - 2000
Goalkeeper - CLASSIC for sale
(1 shirt)


1999 - 2001
Goalkeeper
(1 shirt)

2000 - 2001
Goalkeeper
(2 shirts)


2000 - 2001
Goalkeeper
(1 shirt)


2000 - 2002
Home
(7 shirts)


2000 - 2002
Away
(7 shirts)


2001 - 2002
Away
(6 shirts)


2001 - 2003
Cup Shirt
(5 shirts)


2001 - 2003
Special
(1 shirt)

2002 - 2003
Goalkeeper
(1 shirt)


2002 - 2004
Home
(6 shirts)


2002 - 2004
Away
(6 shirts)


2002 - 2004
Special
(1 shirt)


2003 - 2004
Special
(1 shirt)

2003 - 2005
Away
(3 shirts)

2004 - 2005
Goalkeeper
(1 shirt)

2004 - 2006
Home
(10 shirts)

2004 - 2006
Away
(2 shirts)

2004 - 2006
Goalkeeper
(1 shirt)

2005
Special
(1 shirt)

2005 - 2006
Away
(6 shirts)

2005 - 2006
Goalkeeper
(1 shirt)

2005 - 2006
Goalkeeper
(1 shirt)

2005 - 2006
Cup Shirt
(10 shirts)

2006 - 2007
Away
(8 shirts)


2006 - 2007
Away
(1 shirt)

2006 - 2007
Third
(3 shirts)

2006 - 2007
Third
(1 shirt)

2006 - 2007
Goalkeeper
(1 shirt)

2006 - 2007
Special
(1 shirt)

2006 - 2007
Training/Leisure
(2 shirts)

2006 - 2007
Goalkeeper - CLASSIC for sale
(1 shirt)

2006 - 2008
Home
(12 shirts)

2006 - 2008
Home
(1 shirt)

2007 - 2008
Away
(5 shirts)

2007 - 2008
Away
(1 shirt)

2007 - 2008
Cup Shirt
(6 shirts)

2007 - 2008
Special
(1 shirt)

2008
Cup Shirt
(8 shirts)

2008
Special
(1 shirt)


2008 - 2009
Away
(7 shirts)


2008 - 2009
Away
(2 shirts)


2008 - 2009
Away
(2 shirts)


2008 - 2009
Third
(5 shirts)


2008 - 2009
Third
(1 shirt)


2008 - 2009
Third
(2 shirts)


2008 - 2009
Goalkeeper
(1 shirt)


2008 - 2009
Goalkeeper
(1 shirt)


2008 - 2009
Cup Shirt
(2 shirts)


2008 - 2010
Home
(7 shirts)


2008 - 2010
Special
(2 shirts)


2008 - 2010
Special
(2 shirts)


2009 - 2010
Third
(2 shirts)


2009 - 2010
Goalkeeper
(1 shirt)


2009 - 2010
Special
(1 shirt)


2009 - 2010
Special
(1 shirt)


2009 - 2010
Special
(2 shirts)


2010 - 2011
Away
(3 shirts)


2010 - 2011
Away
(4 shirts)


2010 - 2011
Third
(2 shirts)


2010 - 2011
Goalkeeper
(1 shirt)


2010 - 2011
Special
(1 shirt)


2010 - 2012
Home
(13 shirts)


2010 - 2012
Home
(1 shirt)


2011 - 2012
Third
(2 shirts)


2011 - 2012
Special
(1 shirt)


2011 - 2012
Special
(1 shirt)


2012 - 2013
Home
(5 shirts)


2012 - 2013
Away
(1 shirt)


2012 - 2013
Third
(1 shirt)


2012 - 2013
Goalkeeper
(1 shirt)


2012 - 2013
Goalkeeper
(1 shirt)

thanks to oldjersey