You and Me Never Walk Alone

Showing posts with label Education. Show all posts
Showing posts with label Education. Show all posts

Sunday, August 23, 2015

Dilema PNS Boyolali

Saya merasa prihatin setelah membaca SOLOPOS (18/2). Kondisi pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Boyolali dalam keadaan tidak ideal. Status PNS di Boyolali sebagai abdi negara kini tidak ubahnya menjadi barang yang mudah dilemparkan ke sana ke mari.

PNS Boyolali yang notabene memiliki organisasi resmi bernama Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) justru menjadi tidak berfungsi karena ada ”Korpri Jalanan”. ”Korpri Jalanan” ini bernama paguyuban PNS kecamatan yang kekuatan mobilisasinya lebih besar daripada Korpri Kabupaten Boyolali.

Dan yang lebih tidak bisa dipahami lagi adalah peran kakak kandung Bupati Boyolali yang notabene berada di luar struktur PNS, tapi justru lebih dominan dengan berpidato panjang lebar menceramahi para PNS Boyolali.

Kakak kandung Bupati Boyolali ini dengan lantang menceramahi PNS Boyolali melalui paguyuban-paguyuban di kecamatan yang dibentuk, misalnya Paguyuban Baladewa di Kecamatan Teras, Bratasena di Kecamatan Banyudono dan Wijayakusuma di Kecamatan Simo. Sedemikian parahkah kondisi dan nasib PNS di Boyolali saat ini?

Pertama, hampir seluruh PNS di Boyolali tidak memiliki daya melawan hegemoni kekuasaan ”tangan besi” Bupati Boyolali (yang dalam hal ini dilakukan kakak kandungnya). Padahal, para PNS Boyolali ini sadar tindakan Bupati Boyolali bertentangan dengan kewajiban dan keinginan dirinya.

Namun, bila para PNS di Boyolali ini tidak mengikuti kebijakan Bupati Boyolali (yang saya nilai arogan) maka akan dianggap tidak loyal dan bukan tidak mungkin dianggap sebagai pengkhianat serta langsung masuk ”kotak”.

Kedua, terjadi demoralisasi PNS di Boyolali. Realitas yang terjadi adalah tidak berjalannya birokrasi pemerintahan Boyolali secara wajar akibat rendahnya etos kerja dan ketidakharmonisan antaraparatur pemerintah.

Sinyal demoralisasi PNS di Boyolali ini bisa dibaca dari rendahnya profesionalisme, pekerjaan yang tidak sesuai kompetensi, kondisi yang pro-kontra serta terkotak-kotak hingga terjadi dendam politik secara pribadi kepada Bupati Seno Samodro bila kelak sudah tidak menjabat Bupati Boyolali.

Ketiga, PNS di Boyolali hanya menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan. Fungsi profesionalisme PNS Boyolali yang mestinya sebagai pelayan publik dan instrumen melaksanakan kebijakan kini berubah menjadi pesuruh ”kekuasaan jalanan” yang tidak berada di ranah kekuasaan formal.

Artinya, PNS di Boyolali mengalami kelumpuhan menjalankan fungsi sebagai abdi negara secara benar. Keempat, terjadi komodifikasi jabatan PNS di Boyolali. Ironisnya, rata-rata birokrat Boyolali terlalu sayang dengan jabatan dan takut kehilangan jabatan mereka. Akibatnya, jabatan menjadi komoditas yang mudah untuk diperjualbelikan oleh penguasa Boyolali.

Bahkan, jabatan ”basah” maupun ”kering” kini (saya perkirakan) menjadi salah satu sarana investasi untuk mengembalikan uang yang telah dikeluarkan saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Boyolali 2010.

Kelima, terjadi koncoisme dan kronisme di internal kalangan PNS Boyolali. Agar jabatan aman, banyak PNS yang rela mengabdi menjadi konco dan kroni kerabat Bupati Boyolali. Para PNS ini rela dan bersedia melakukan apa pun yang diinginkan orang-orang ”luar” tetapi dekat dengan Bupati Boyolali.

Bahkan, para PNS ini mau untuk melakukan tindakan yang menjurus ranah korupsi, manipulasi dan intimidasi, baik terhadap para PNS lain yang tidak sejalan ataupun kepada masyarakat.

Terbuka

Kegundahan saya selama kian bertambah karena PNS Boyolali hanya dijadikan ajang ”sepak bola” oleh penguasa Boyolali. Sikap diam serta nrima para PNS Boyolali, jutru membuat Bupati Boyolali semakin arogan karena seolah-olah tak ada yang berani melawan kekuasaannya.

Lantas, bagaimana semestinya sikap para PNS Boyolali melawan arogansi Bupati Boyolali saat ini? Pertama, PNS Boyolali harus berani melawan secara terbuka terhadap kebijakan Bupati Boyolali yang suka memutasi para PNS dengan pertimbangan tak jelas.

Para PNS di Boyolali dapat belajar dari pengalaman kasus yang nyaris sama di Kabupaten Temanggung pada 2005. Saat itu, PNS di Temanggung berani melakukan aksi mogok kerja dan berhasil melawan kesewenang-wenangan Bupati Temanggung, Totok Ary Prabowo.

Berkaca dari Kasus Temanggung, jika PNS Boyolali kompak, akan dapat mengalahkan kekuatan politik yang sewenang-wenang di Boyolali. Namun, jika PNS Boyolali lemah, akan mudah dipecah-pecah melalui politisasi PNS.

Artinya, keberanian PNS Boyolali untuk kompak dan bersatulah yang akan menyelamatkan mereka dari neraka politisasi birokrasi saat ini. Beranikah PNS Boyolali ini melawan Bupati Boyolali secara terbuka?

Kedua, PNS Boyolali harus berani melawan melalui jalur hukum. Andaikan yakin bahwa mutasi dilakukan Bupati Boyolali secara asal-asalan, seharusnya PNS Boyolali berani menggugat Bupati Boyolali ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Para PNS di Boyolali harus berani mencontoh keberanian Rustam Effendi, Sekretaris Dinas Perhubungan di Kabupaten Kubu Raya,  yang dipecat oleh Bupati Kubu Raya. Rustam merasa dizalimi karena kemudian dipecat dari status PNS-nya. Rustam menggugat Bupati Kubu Raya ke PTUN Pontianak dan akhirnya menang.

Seandainya ribuan PNS di Boyolali yang menjadi korban mutasi menggugat Bupati Boyolali ke PTUN, pasti akan menjadi peristiwa besar. Bupati Boyolali pasti akan pusing tujuh keliling karena harus bersidang di pengadilan setiap hari serta tidak akan sempat bekerja maksimal.

Langkah ini perlu dicoba dan para PNS Boyolali tidak perlu takut seandainya kalah sidang karena tidak dapat dipecat dari status sebagai PNS. Konsekuensi terburuk hanya tidak diberi jabatan oleh Bupati Boyolali.

Ketiga, PNS di Boyolali harus meminta pertanggungjawaban pengurus Korpri Boyolali. Sosok Sekda Boyolali (yang notabene adalah Ketua Korpri Boyolali) seharusnya dituntut pertanggungjawabannya karena telah menjual harga diri lembaga.

Korpri Boyolali hampir tak punya rasa kesetiakawanan terhadap para PNS korban mutasi. Korpri Boyolali semestinya memberi perlindungan mengingat jiwa korsa sesama anggota agar birokrasi memiliki harga diri dan tak mudah dipolitisasi oleh Bupati Boyolali. Korpri Boyolali secara kelembagaan seharusnya difungsikan secara benar dan berani, yakni sebagai pengayom bagi anggotanya.

Alangkah tragisnya bila Korpri yang dilindungi Peraturan Pemerintah (PP) No 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil, justru kalah berwibawa dibandingkan Paguyuban Baladewa, Paguyuban Bratasena atau Paguyuban Wijayakusuma. Menurut saya, pilihannya adalah lawan politisasi PNS Boyolali atau selamanya PNS Boyolali tertindas!

Bramastia Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

Tuesday, August 11, 2015

Hidup 1,5 Jam di Dunia

TERNYATA CUMA 1,5 JAM SAJA KITA HIDUP DI DUNIA INI

Mari kita lihat berdasarkan Al-Qur'an sebagai sumber
kebenaran absolut.

1 hari akhirat = 1000 tahun ..

24 jam akhirat = 1000 tahun ..

3 jam akhirat = 125 tahun .....

1,5 jam akhirat = 62,5 tahun ..

Apabila umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja. Pantaslah kita selalu diingatkan masalah waktu.

Ternyata hanya satu setengah jam saja yang akan menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak di Surga atau Neraka.
(QS. 35:15, 4:170)

Cuma satu setengah jam saja cobaan hidup, maka bersabarlah. (QS. 74:7, 52:48,39:10)

Demikian juga hanya satu setengah jam saja kita harus menahan nafsu dan mengganti dengan sunnah-Nya. (QS. 12:53, 33:38)
"Satu Setengah Jam" sebuah perjuangan yang teramat singkat dan Allah akan mengganti dengan surga Ridha Allah. (QS.9:72, 98:8, 4:114)

Maka berjuanglah untuk mencari bekal perjalanan panjang nanti. (QS. 59:18, 42:20, 3:148, 28:77)

Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (dibumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui." (QS. 23:114)

Semoga bermanfaat

Friday, May 1, 2015

Gambar Bungkus Rokok di Indonesia Kurang Seram

Penasihat Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Kartono Muhammad, menilai peringatan bergambar atau pictorial health warning (PHW) pada bungkus rokok di Indonesia masih kurang menyeramkan.

Kartono membandingkannya dengan gambar bungkus rokok di luar negeri. "Di negara lain ada yang gambar jenazah, seperti di Inggris," kata Kartono di Jakarta, Selasa (28/4/2015).

Menurut dia, tujuan utama adanya PHW adalah mencegah munculnya perokok baru. Gambar seram pada bungkus rokok diharapkan dapat membuat remaja berpikir dua kali untuk mulai merokok.

"PHW ini diterapkan dan ditujukan agar jangan ada anak muda yang merokok. Tujuannya mengurangi konsumsi rokok," kata Kartono. Selain adanya PHW, menurut Kartono, harga rokok dan cukai juga harus dinaikkan. Rokok pun harus dilarang jadi sponsor suatu acara.

Menurut dia, Pemerintah Indonesia sudah sangat lunak terhadap produsen rokok. Meski demikian, banyak produsen rokok yang tidak mematuhi peraturan, seperti masih beredarnya bungkus rokok tanpa PHW, ataupun PHW yang ditutup pita cukai. Pemerintah pun dinilai kurang tegas dalam menindak produsen rokok yang melanggar peraturan.

"Pemerintah bikin peraturan, tetapi dilecehkan. Sampai sekarang tidak ada ketegasan menindak karena saling lempar," kata dia. Padahal, rokok sudah jelas membahayakan kesehatan. Tidak ada satu pun manfaat dari merokok.

sumber : kompas health

Orang Belanda yang merancang "Indonesia"

Game "Indonesia
Saking sulitnya ditemukan, game berjudul "Indonesia" bagai mahluk mitologi monster Loch Ness dan sejenisnya. Maka betapa mengejutkan pengalaman bertemu pria Belanda yang merancang game itu.

Pertemuan itu terjadi pada hari pertama pameran internasional Essen Spiel '14, pameran tabletop games terbesar di dunia. Sebenarnya, tanggal 16 Oktober 2014 itu adalah hari kedua keterlibatan delegasi Indonesia di Internationale Spieltage 2014.

Hari sebelumnya adalah hari khusus industri dan media massa. Penerbit yang memiliki game baru berhak memamerkan game mereka di ruang khusus di lantai dua arena Messe Essen.

Termasuk tentunya pihak Manikmaya Games, penerbit game asal Bandung yang menjadi bagian dari delegasi Indonesia, bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, di acara itu.

Bagi yang baru pertama kali ke acara tersebut, arena Messe Essen bisa cukup membingungkan. Arena 58.000 meter persegi bukan wilayah yang kecil untuk ditelusuri, apalagi dengan layout pameran yang penuh lorong-lorong kecil antar booth.

Hal itu yang saya alami juga. Apalagi, sebagai seorang yang menggemari permainan tabletop jenis boardgame dan card game, setiap booth yang dilewati seakan berteriak meminta perhatian.

Maka jelang sore hari waktu setempat, saya menyempatkan diri untuk "beristirahat" di booth Indonesia. Tentu saja ini berarti harus sambil melayani pertanyaan dan ajakan main dari pengunjung yang datang.

Jangan salah, hal itu tentu saja saya lakukan dengan semangat dan senang hati. Bukan apa-apa, kapan lagi punya kesempatan bermain Mat Goceng yang penuh tipu-tipu itu dengan pengunjung yang mayoritas "bule"?

Pria Berbaju Biru yang Misterius

Sore itu, sekitar pukul 15:00 waktu setempat, kebetulan  ada beberapa pengunjung yang antusias mencoba Mahardika. Game rancangan Rio Frederrico ini memang masih belum tersedia untuk dijual, namun sudah cukup mengundang minat pengunjung.

Selesai playtesting, saya dan Rio berbincang di sekelilling meja yang masih menampilkan papan Mahardika (berupa peta Indonesia) dan beberapa komponen serta buku peraturan game tersebut.

Seorang pria berkemeja biru tiba-tiba mendekati booth Indonesia. Setelah tersenyum padanya, saya tidak terlalu memperhatikan lagi pria itu.

Tabiat seperti itu memang kerap dilakukan para pengunjung Essen Spiel, sekadar memerhatikan sebuah booth, lihat-lihat dengan intensif, lalu segera berlalu seakan-akan tiba-tiba teringat akan suatu janji.

Namun kali ini berbeda, pria itu kemudian kembali mendekat, dan meminjam rulebook Mahardika.

"Boleh saya pinjam?" ujar pria itu, dalam Bahasa Inggris tentunya.
"Silahkan," jawab kami, nyaris serempak.

Beberapa menit kemudian, kami masih asyik berbincang, pria itu kembali mendekat. Mungkin sudah selesai membaca atau apa.

"Mau tahu lebih lanjut? Silahkan duduk," kata saya.
 "Ya, ya. Tentu saja," ujarnya.

Rio pun menjelaskan sekilas tentang Mahardika, tentang apa permainan itu dan garis besar cara bermainnya.

"Saya baru tahu," kata pria itu, "ternyata ada yang membuat boardgame juga di Indonesia."
"Ini memang baru pertama kali kami hadir di Essen," kata saya.
"Menarik sekali. Saya dulu pernah membuat boardgame berjudul 'Indonesia'," lanjutnya.

Jreng! Saya dan Rio terdiam sejenak, seperti tidak percaya apa yang baru saja kami dengar.

Lebih dari Menemukan 'Cawan Suci'

"Anda yang merancang boardgame 'Indonesia'?" tanya saya setengah tidak percaya.

Kali ini saya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan saya. Tawa kami pun meledak, entah mengapa. Mungkin semacam kompensasi dari rasa kaget itu.

Mungkin perlu saya jelaskan dulu sebelumnya. Boardgame 'Indonesia' merupakan game yang sudah tidak ada di pasaran. Game itu juga sulit ditemui di pasar loak Eropa, apalagi di Indonesia.

Bagi orang Indonesia yang menggemari boardgame, game 'Indonesia' adalah sebuah legenda. Rasa penasaran soal game itu, seperti apa cara mainnya, siapa yang membuatnya, berkecamuk dalam pikiran sejak lama.

Bahkan, Eko Nugroho, CEO Kummara selaku induk dari Manikmaya Games, telah sering menjadikan 'Indonesia' sebagai contoh kasus.

"Ada lho, boardgame dengan judul 'Indonesia'. Dan yang bikin itu orang Belanda!" adalah kalimat yang sering ia lontarkan bagi orang yang baru 'belajar' boardgame.

Dan kini, entah berapa tahun sejak pertama kali saya mengetahui akan keberadaan boardgame itu, kami bertatap-tatapan langsung dengan pembuatnya.

Jika diibaratkan pencarian Indiana Jones akan cawan suci (dalam Indiana Jones and The Last Crusade, 1989), ini adalah ibaratnya bukan saja menemukan cawannya, tapi menemukan pembuat cawan itu sendiri.

Saya agak malu untuk mengakui apa yang terjadi setelah kami menyadari bahwa pria itu adalah perancang game 'Indonesia'. Karena yang kami lakukan berikutnya adalah meminta untuk berfoto bersama.

Ya, memang agak memalukan. Tapi mau bilang apa? Kalau Anda ketemu Yeti atau Big Foot -- dengan asumsi mahluk itu tak membunuh Anda terlebih dahulu -- hal pertama yang terpikir adalah untuk memotretnya kan?

Wicak Hidayat/KompasTekno Joris Wiersinga, perancang game 'Indonesia', bersama Rio Frederrico, perancang game Mahardika, di gelaran Essen Spiel '14, 16-19 Oktober 2014.
Namanya Joris

Pria itu bernama Joris Wiersinga, sapaan akrabnya Joris (dibaca: Yoris). Dia adalah CEO dari sebuah perusahaan gamification bernama Silverfit.

Joris bukan orang biasa di dunia game, dia merupakan salah satu tokoh yang disegani, perancang game yang punya reputasi membuat game dengan aspek ekonomi yang rumit.

Joris, kelahiran Arnhem, Belanda, telah merancang game sejak usia muda. Game komputer pertama yang ia jual dibuat pada saat ia masih usia 14 tahun, menyusul beberapa tahun kemudian game tabletop.

Menurut data di Boardgamegeek, bersama dengan Jeroen Doumen, Tamara Jannink dan Herman Haverkort ia mendirikan Splotter Spellen. Perusahaan yang kemudian menerbitkan game 'Indonesia' rancangannya.

Joris dan Indonesia

Setelah selesai bertingkah seperti fanboy, kami kembali duduk di meja dan berusaha menggali lebih jauh hal apa yang membuat Joris merancang game dengan judul 'Indonesia'.

"Ya, salah satunya karena saya pernah tinggal di Indonesia," jawab Joris.

Dhuer! Lagi-lagi saya merasa kesamber gledek. Ini artinya, Joris bukan sekadar menempelkan Indonesia ke dalam mekanik game yang ia rancang, tapi ia memang sungguh punya kedekatan dengan Indonesia.

"Wow," kata saya setengah tidak percaya, "Anda pernah tinggal di Indonesia?"
"Waktu kecil, Ayah saya bekerja di Indonesia. Saya tinggal di Jakarta, Ayah saya bekerja di wilayah lain," ujar Joris.

Joris mengatakan, ia tinggal di area dekat Blok M dan Kebayoran. Ia masih kanak-kanak ketika itu, namun ia cukup punya kenangan tentang Indonesia.

Lahirnya Game 'Indonesia'

"Lalu, game 'Indonesia' itu, dibuat karena pengalaman Anda di Indonesia?" tanya saya.
"Tidak. Tapi, saya memang memulainya dari sebuah kejadian di Indonesia," tutur Joris.

"Ketika itu saya sedang berada di bandara, salah satu wilayah di Indonesia yang saya tidak ingat namanya. Tapi itu di wilayah timur," kata Joris.

"Kemudian, saya dapat pengumuman, pesawat mengalami penundaan. Penundaannya cukup lama, saya tidak ingat berapa jam, atau apakah saya sampai harus menginap satu malam lagi," lanjutnya.

Namun yang pasti, Joris mengatakan, penundaan itu membuatnya iseng dan ia akhirnya mencoret-coret ide sebuah boardgame. Sebuah peta Indonesia yang dilihatnya ketika itu turut memicu ide tersebut.

Menurut Joris, proses terjadinya game 'Indonesia' dari ide ke produksi terbilang cepat dibandingkan game-game lain dari Splotter Spellen. Ia menyebut hanya beberapa hari dibandingkan beberapa minggu yang biasanya dilakukan.

Rumit, Menuai Pujian

Game tersebut pun meraih perhatian yang cukup baik di kalangan penggemar boardgame. Bahkan, menurut Boardgamegeek, Game yang terbit di 2005 itu adalah finalis International Gamers Award pada 2006.

Joris menjelaskan, game itu memiliki tema ekonomi. Pemain bisa memiliki produksi (seperti karet, beras, makanan cepat saji atau minyak). Pemain juga bisa melakukan penelitian, hingga ada kemungkinan melakukan merger / akuisisi.

"Hal ini merupakan satu aspek yang cukup unik di boardgame. Sangat jarang game yang memungkinkan terjadinya merger antar pemain," ujar Joris.

Dari sisi temanya, game Indonesia bukan game pertama yang mencakup tema dari Indonesia. Sebelumnya ada game berjudul Java, terbit di 2000. Setelah 'Indonesia', ada juga game dengan judul Batavia yang terbit di 2008.

Wicak Hidayat/KompasTekno
Joris Wiersinga (baju biru), perancang game 'Indonesia' sedang mencoba Mat Goceng di booth Indonesia bersama Eko Nugroho, CEO Kummara (berbatik), pada ajang Essen Spiel 14, Kamis (16/10/2014).
Bertemu 'Arch Enemy'

Di tengah-tengah perbincangan kami (Saya, Rio dan Joris) datanglah Eko Nugroho ke booth Indonesia, seusai menjalani meeting dengan beberapa publisher setempat.

Setelah mengetahui pria yang sedang berbincang dengan kami itu adalah Joris, perancang game 'Indonesia', Eko pun tak bisa menyembunyikan kekagetannya.

Ini adalah sosok yang buat Eko telah lama menjadi bagian dari kisah yang ia ceritakan ke para mahasiswa (Eko adalah dosen di Universitas Padjajaran) dan timnya di Kummara.

Ini adalah sosok yang bagaikan hantu, telah "dikejar-kejar" oleh Eko. Orang asing yang berani-beraninya membuat game dengan judul Indonesia.

Ini adalah sosok yang, jika mengambil perumpamaan dunia superhero, selama ini menjelma sebagai arch enemy alias 'musuh bebuyutan' dalam kepala Eko.

"Oke, oke. Anda harus bermain game lawan saya," ujar Eko.

Joris mengangkat bahu sambil tersenyum, menyetujui usulan Eko.

Pertarungan 'Vriejeman'

Tentunya, mereka tidak akan bermain Mahardika. Game dengan tema kemerdekaan Indonesia ini adalah game kerjasama, yang menempatkan semua pemain di sisi yang sama.

Tidak, keduanya harus bermain game yang mempertentangkan pemain satu sama lain. Maka game apalagi yang paling cocok kalau bukan Mat Goceng?

Setelah penjelasan singkat tentang cara bermain Mat Goceng, Eko memulai permainan sebagai orang pertama. Jelas, seperti sudah bisa diduga, Eko menantang Joris dalam duel pertamanya.

Awalnya, Joris seperti enggan, bertanya apakah ia bisa menolak tantangan. Tentu saja, ia bisa melakukan ini dengan membayarkan dua keping perak.

Dengan kemungkinan duel terhenti sebelum terjadi, Eko pun membujuk Joris untuk menerima tantangannya saja. Maka duel itu pun terjadi.

Jurus demi jurus dilancarkan kedua pihak, lewat kartu-kartu Mat Goceng. Tak lama, kartu keduanya tak bisa meneruskan pertarungan, fase negosiasi alot pun dimulai.


Wicak Hidayat/KompasTekno Joris Wiersinga, perancang game 'Indonesia', saat mengunjungi booth Indonesia di Essen Spiel '14, 16-19 Oktober 2014.Duel Seru Penuh Janji

Lewat berbagai cara, negosiasi, tawar-menawar dan janji-janji, kartu-kartu pemain lain pun ikut turun ke arena duel. Pertarungan berlanjut hingga salah satu pihak akhirnya kalah.

Duel antara Eko dan Joris terjadi dua atau tiga kali, dan setiap kali terjadi selalu melibatkan seluruh pemain yang ada di meja, dan hampir semua kartu. Pada akhirnya Joris menyerah dan permainan selesai.

"Jadi, kamu menang dengan modal janji-janji belaka?" ujar Joris sambil tertawa.

Mat Goceng memang permainan yang menempatkan negosiasi dan tawar-menawar, serta gertakan, sebagai poros permainannya. Game ini secara cepat mengubah satu meja pemain yang tak saling kenal jadi lebih dekat, karena interaksi yang personal dan emosional.

Tentunya, setelah permainan selesai, apa yang terjadi selama permainan harus direlakan. Seperti lazimnya sebuah permainan, ada yang menang dan ada yang kalah. Pemenang tak perlu terlalu jumawa, yang kalah tak usah gusar.

Demikian pula dalam permainan Mat Goceng yang, jujur saja, merupakan panggung pertarungan Eko vs Joris itu. Pada akhirnya Eko pun mau tak lagi menempatkan sosok Joris sebagai arch enemy-nya.

Tentang Penulis: Wicak Hidayat adalah wartawan KompasTekno. Tulisan ini adalah bagian dari catatan perjalanannya ke Essen Spiel '14, 16-19 Oktober 2014 di Kota Essen, Jerman.

sumber : kompas tekno

Tuesday, February 24, 2015

Duh, Masa Kegelapan Akan Kembali Lagi

Manusia modern kerap menganggap format digital paling efektif dalam menyimpan file, utamanya foto. Selain lebih ringkas dan tak makan ruang, foto digital juga tak akan usang dan tercecer.

Pun begitu, kita lupa bahwa modernisasi akan membawa teknologi pada pemutakhiran-pemutakhiran tiada ujung. File-file digital yang kita simpan hari ini mungkin tak lagi bisa terbaca oleh teknologi masa depan.
Dark Age

Inilah yang diperingatkan bapak internet Vint Cerf sejak dini kepada kita semua.

Sebagaimana dilaporkan PetaPixel dan dikutip KompasTekno, Selasa (18/2/2015), Cerf meramalkan bahwa "dark age" akan kembali terjadi.

"Dark age" atau masa kegelapan adalah masa manusia terputus dari pengetahuan sejarah masa lalu. Hal ini, kata Cerf, karena terlalu banyak data yang tersimpan dalam format digital.

Sejauh ini, Cerf mengklaim, satu-satunya solusinya adalah mencetak semua file digital ke format yang sebenarnya. Walau terkesan berjalan mundur dari peradaban teknologi, ini solusi paling realistis untuk melestarikan kejadian hari ini sebagai sejarah masa depan.

"Jika ada gambar-gambar yang benar-benar penting buat kalian, cetaklah dalam bentuk fisik," Cerf mengimbau di sela-sela pidatonya pada konferensi American Association for the Advancement of Science di San Jose.

Kata Cerf, menyimpan file ke dalam cloud yang disediakan para raksasa teknologi, seperti Google, Amazon, dan Microsoft, mungkin akan awet. Tetapi, opsi ini membutuhkan biaya tak sedikit jika harus terus menambah kapasitas penyimpanan.

Selain itu, tak ada yang menjamin perusahaan-perusahaan itu masih bertahan pada dekade-dekade berikutnya.

sumber : kompas tekno

Thursday, August 28, 2014

Daftar Anggota Federasi Palang Merah Internasional (IFRC)

Berikut adalah daftar anggota federasi Palang Merah Internasional terdiri atas Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah;
  1. Afghanistan: Afghan Red Crescent Society
  2. Albania: Albanian Red Cross
    Logo Federasi
  3. Algeria: Algerian Red Crescent
  4. Andorra: Andorra Red Cross
  5. Angola: Angola Red Cross
  6. Antigua and Barbuda: Antigua and Barbuda Red Cross Society
  7. Argentina: Argentine Red Cross
  8. Armenia: Armenian Red Cross Society
  9. Australia: Australian Red Cross
  10. Austria: Austrian Red Cross
  11. Azerbaijan: Red Crescent Society of Azerbaijan
  12. Bahamas: Bahamas Red Cross
  13. Bahrain: Bahrain Red Crescent Society
  14. Bangladesh: Bangladesh Red Crescent Society
  15. Barbados: Barbados Red Cross Society
  16. Belarus: Belarusian Red Cross
  17. Belgium: Belgian Red Cross
  18. Belize: Belize Red Cross Society
  19. Benin: Red Cross of Benin
  20. Bolivia: Bolivian Red Cross
  21. Bosnia and Herzegovina: Red Cross Society of Bosnia and Herzegovina
  22. Botswana: Botswana Red Cross Society
  23. Brazil: Brazilian Red Cross
  24. Brunei: Brunei Darussalam Red Crescent Society
  25. Bulgaria: Bulgarian Red Cross
  26. Burkina Faso: Burkinabe Red Cross Society
  27. Burundi: Burundi Red Cross
  28. Cambodia: Cambodian Red Cross Society
  29. Cameroon: Cameroon Red Cross Society
  30. Canada: Canadian Red Cross
  31. Cape Verde: Red Cross of Cape Verde
  32. Central African Republic: Central African Red Cross Society
  33. Chad: Red Cross of Chad
  34. Chile: Chilean Red Cross
  35. China, People's Republic of: Red Cross Society of China
  36. Hong Kong: Hong Kong Red Cross (autonomous branch of the Red Cross Society of China)
  37. Macau: Macau Red Cross (autonomous branch of the Red Cross Society of China)
  38. Colombia: Colombian Red Cross Society
  39. Comoros: Comoros Red Crescent
  40. Congo: Congolese Red Cross
  41. Democratic Republic of the Congo: Red Cross of the Democratic Republic of the Congo
  42. Cook Islands: Cook Islands Red Cross
  43. Costa Rica: Costa Rica Red Cross
  44. Côte d'Ivoire: Red Cross Society of Côte d'Ivoire
  45. Croatia: Croatian Red Cross
  46. Cuba: Cuban Red Cross
  47. Cyprus: Cyprus Red Cross Society
  48. Czech Republic: Czech Red Cross
  49. Denmark: Danish Red Cross
  50. Djibouti: Red Crescent Society of Djibouti
  51. Dominica: Dominica Red Cross Society
  52. Dominican Republic: Dominican Red Cross
  53. Ecuador: Ecuadorian Red Cross
  54. Egypt: Egyptian Red Crescent Society
  55. El Salvador: Salvadoran Red Cross Society
  56. Equatorial Guinea: Red Cross of Equatorial Guinea
  57. Estonia: Estonian Red Cross
  58. Ethiopia: Ethiopian Red Cross Society
  59. Fiji: Fiji Red Cross Society
  60. Finland: Finnish Red Cross
  61. France: French Red Cross
  62. Gabon: Gabonese Red Cross Society
  63. Gambia: Gambia Red Cross Society
  64. Georgia: Red Cross Society of Georgia
  65. Germany: German Red Cross
  66. Ghana: Ghana Red Cross Society
  67. Greece: Hellenic Red Cross
  68. Grenada: Grenada Red Cross Society
  69. Guatemala: Guatemalan Red Cross
  70. Guinea: Red Cross Society of Guinea
  71. Guinea-Bissau: Red Cross Society of Guinea-Bissau
  72. Guyana: Guyana Red Cross
  73. Haiti: Haitian National Red Cross Society
  74. Honduras: Honduran Red Cross
  75. Hungary: Hungarian Red Cross
  76. Iceland: Icelandic Red Cross
  77. India: Indian Red Cross Society
  78. Indonesia: Indonesian Red Cross Society
  79. Iran: Red Crescent Society of the Islamic Republic of Iran
  80. Iraq: Iraqi Red Crescent Society
  81. Ireland: Irish Red Cross
  82. Israel: Magen David Adom
  83. Italy: Italian Red Cross
  84. Jamaica: Jamaican Red Cross
  85. Japan: Japanese Red Cross Society
  86. Jordan: Jordan National Red Crescent Society
  87. Kazakhstan: National Red Crescent Society of the Republic of Kazakhstan
  88. Kenya: Kenya Red Cross Society
  89. Kiribati: Kiribati Red Cross Society
  90. South Korea: Republic of Korea National Red Cross (KRC)
  91. Kuwait: Kuwait Red Crescent Society
  92. Kyrgyzstan: Red Crescent Society of Kyrgyzstan
  93. Laos: Lao Red Cross
  94. Latvia: Latvian Red Cross
  95. Lebanon: Lebanese Red Cross
  96. Lesotho: Lesotho Red Cross Society
  97. Liberia: Liberian Red Cross Society
  98. Libya: Libyan Red Crescent
  99. Liechtenstein: Liechtenstein Red Cross
  100. Lithuania: Lithuanian Red Cross Society
  101. Luxembourg: Luxembourg Red Cross
  102. Republic of Macedonia: Macedonian Red Cross
  103. Madagascar: Malagasy Red Cross Society
  104. Malawi: Malawi Red Cross Society
  105. Malaysia: Malaysian Red Crescent Society
  106. Maldives: Maldivian Red Crescent[2]
  107. Mali: Mali Red Cross
  108. Malta: Malta Red Cross Society
  109. Mauritania: Mauritanian Red Crescent
  110. Mauritius: Mauritius Red Cross Society
  111. Mexico: Mexican Red Cross
  112. Micronesia, Federated States of: Micronesia Red Cross Society
  113. Moldova: Red Cross Society of the Republic of Moldova
  114. Monaco: Red Cross Society of Monaco
  115. Mongolia: Mongolian Red Cross Society
  116. Montenegro: Red Cross of Montenegro
  117. Morocco: Moroccan Red Crescent
  118. Mozambique: Mozambique Red Cross Society
  119. Myanmar: Myanmar Red Cross Society
  120. Namibia: Namibia Red Cross Society
  121. Nepal: Nepal Red Cross Society
  122. Netherlands: Netherlands Red Cross
  123. New Zealand: New Zealand Red Cross
  124. Nicaragua: Nicaraguan Red Cross
  125. Niger: Red Cross Society of Niger
  126. Nigeria: Nigerian Red Cross Society
  127. Norway: Norwegian Red Cross
  128. Pakistan: Pakistan Red Crescent Society
  129. Palau: Palau Red Cross Society
  130. Palestine: Palestine Red Crescent
  131. Panama: Red Cross Society of Panama
  132. Papua New Guinea: Papua New Guinea Red Cross Society
  133. Paraguay: Paraguayan Red Cross
  134. Peru: Peruvian Red Cross
  135. Philippines: Philippine Red Cross
  136. Poland: Polish Red Cross
  137. Portugal: Portuguese Red Cross
  138. Qatar: Qatar Red Crescent Society
  139. Romania: Romanian Red Cross
  140. Russia: Russian Red Cross Society
  141. Rwanda: Rwandan Red Cross
  142. Saint Kitts and Nevis: Saint Kitts and Nevis Red Cross Society
  143. Saint Lucia: Saint Lucia Red Cross
  144. Saint Vincent and the Grenadines: Saint Vincent and the Grenadines Red Cross
  145. Samoa: Samoa Red Cross Society
  146. San Marino: Red Cross of the Republic of San Marino
  147. Sao Tome and Principe: Sao Tome and Principe Red Cross
  148. Saudi Arabia: Saudi Red Crescent Authority
  149. Senegal: Senegalese Red Cross Society
  150. Serbia: Red Cross of Serbia
  151. Seychelles: Seychelles Red Cross Society
  152. Sierra Leone: Sierra Leone Red Cross Society
  153. Singapore: Singapore Red Cross Society
  154. Slovakia: Slovak Red Cross
  155. Slovenia: Slovenian Red Cross
  156. Solomon Islands: Solomon Islands Red Cross
  157. Somalia: Somali Red Crescent Society
  158. South Africa: South African Red Cross Society
  159. South Sudan: South Sudan Red Cross
  160. Spain: Spanish Red Cross (CRE)
  161. Sri Lanka: Sri Lanka Red Cross Society
  162. Sudan: Sudanese Red Crescent
  163. Suriname: Suriname Red Cross
  164. Swaziland: Baphalali Swaziland Red Cross Society
  165. Sweden: Swedish Red Cross
  166. Switzerland: Swiss Red Cross
  167. Syria: Syrian Arab Red Crescent
  168. Tajikistan: Red Crescent Society of Tajikistan
  169. Tanzania: Tanzania Red Cross National Society
  170. Thailand: Thai Red Cross Society
  171. Timor-Leste: Timor-Leste Red Cross Society
  172. Togo: Togolese Red Cross
  173. Tonga: Tonga Red Cross Society
  174. Trinidad and Tobago: Trinidad and Tobago Red Cross Society
  175. Tunisia: Tunisian Red Crescent
  176. Turkey: Turkish Red Crescent
  177. Turkmenistan: Red Crescent Society of Turkmenistan
  178. Uganda: Uganda Red Cross Society
  179. Ukraine: Ukrainian Red Cross Society
  180. Uruguay: Uruguayan Red Cross
  181. United Arab Emirates: Red Crescent Society of the United Arab Emirates
  182. United Kingdom: British Red Cross
  183. British Virgin Islands: British Virgin Islands Red Cross (autonomous branch of the British Red Cross)
  184. Turks & Caicos Islands: Turks & Caicos Red Cross Society (autonomous branch of the British Red Cross)
  185. United States of America: American Red Cross
  186. Uzbekistan: Red Crescent Society of Uzbekistan
  187. Vanuatu: Vanuatu Red Cross Society
  188. Venezuela: Venezuelan Red Cross
  189. Vietnam: Red Cross of Viet Nam
  190. Yemen: Yemen Red Crescent Society
  191. Zambia: Zambia Red Cross Society
  192. Zimbabwe: Zimbabwe Red Cross Society


Societies not members of the Federation[edit]

  1. Eritrea: Red Cross Society of Eritrea (observer, admission and recognition pending[citation needed])
  2. Northern Cyprus: North Cyprus Red Crescent Society (observer)
  3. Sahrawi Arab Democratic Republic: Sahrawi Red Crescent (observer,[3][4] admission and recognition pending[citation needed])
  4. Tuvalu: Tuvalu Red Cross Society (observer, admission and recognition pending[citation needed])
  5. Taiwan (Republic of China): Red Cross Society of the Republic of China (recognized by the ICRC, but not a member or observer of the Federation)
  6. Sovereign Military Order of Malta: conducting humanitarian operations is a major part of its own activities (recognized by the ICRC, but not a member or observer of the Federation)[citation needed]

Bhutan, Marshall Islands, Nauru, Niue, Oman and the Vatican City are the states without recognized national societies, along with the states with limited recognition - Abkhazia, Kosovo, Nagorno-Karabakh, Somaliland, South Ossetia, Transnistria.[citation needed]

Desain MMT dan Banner SMANILA

Berikut ini kami lampirkan desain MMT dan Banner untuk Lomba Sekolah Berkarakter Kebangsaan Tahun 2014 SMA Negeri 1 Ngemplak, Donohudan, Boyolali.




ABITA, AKU BANGGA INDONESIA TANAH AIRKU





PROFIL EKSKUL UNGGULAN




JUMAT PESONA SMANILA







KATA - KATA MUTIARA 





X- BANNER


#SMANILA2014

seluruh desain dapat di download disini

Monday, August 11, 2014

Panduan Aplikasi DAPODIKMEN

DASAR HUKUM
-Permendikbud nomor 1 tahun 2012 tentang organisasi dan tata kerja kementerian pendidikan dan kebudayaan.
-Instruksi Menteri Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 2011
-Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)
-Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik
-Surat Edaran nomor: 0293/MPK.A/PR/2014 tentang Pelaksanaan Instruksi Mentri nomor 2 tahun 2011

Penjelasan Aplikasi DAPODIKMEN
1. Aplikasi DAPODIKMEN adalah Penyatuan Aplikasi Pendataan dengan arah requirement sistem lebih besar (penyatuan database, user interface dan sinkronisasi)
2.Data hasil sinkronisasi dari PAS ke server DAPODIKMEN tahun 2013 dimigrasikan ke server DAPODIKMEN yang baru.
3. Prefill adalah data awal pada Aplikasi DAPODIKMEN. Data prefill adalah hasil generate/package dari data di server DAPODIKMEN baru.
4.Jika Sekolah sudah melakukan sinkronisasi data dari PAS ke server DAPODIKMEN, maka Sekolah melakukan ubah / update data.
5. Bagi Sekolah yang belum melakukan sinkronisasi data dari PAS ke server DAPODIKMEN hanya akan mendapatkan prefill yang memuat data identitas sekolah saja dan melakukan input data di aplikasi DAPODIKMEN.
6.Input data pada Aplikasi DAPODIKMEN diharuskan lengkap dan valid
7.Aplikasi DAPODIKMEN dapat melakukan pendeteksian seorang guru yang mengajar pada lebih dari satu Sekolah (merge).
8.Pada saat sinkronisasi terjadi proses dua arah.
9.Tidak Ada Menu Backup – Restore database lokal.
10.Tidak ada Menu Import data, Input data hanya bisa dilakukan secara manual
11.Pengiriman data melalui proses sinkronisasi ke server dikmen (disarankan menggunakan koneksi langsung tanpa proxy)
12.Kode registrasi adalah “kunci” untuk mengakses Aplikasi Dapodikmen. Pada kegiatan ini, Kode registrasi dapat diperoleh dari tim pengembang (kedepan direncanakan diperoleh di KKDATADIK). Pastikan Anda menggunakan kode registrasi sekolah Anda sendiri dan tidak membagi/menginformasikan kode ini pada pihak yang tidak berkepentingan. Kode Registrasi digunakan pada saat registrasi awal di aplikasi (aktivasi).
13.Username/email yang diisi pada saat registrasi harus aktif.Password yang diisi adalah password sesuai dengan yang diinginkan pengguna, digunakan pada saat pengguna akan login ke dalam Aplikasi
Overview Aplikasi DAPODIKMEN
Aplikasi DAPODIKMEN :
• Model: Web-based
• Platform: LAMPP stack
• Database: Postgresql 9.2
• Instalasi dipack berupa setup.exe
Spesifikasi minimal hardware dan software :
• Komputer: PC Desktop Dedicated
• Processor: Pentium Core Duo
• OS: Windows XP SP2, Windows Vista, Windows 7, Windows 8 dan
Windows Server 2003 atau yang terbaru
• RAM minimum: 512MB
• Harddisk: 250 MB
• Browser Menggunakan Google Chrome atau Mozilla Firefox terbaru
• Bersih dari virus/program yang dapat menggangu instalasi
Pra Instalasi Aplikasi DAPODIKMEN
1. Baca manual aplikasi DAPODIKMEN
2.Siapkan Komputer/Laptop dengan resolusi layar minimal 1024×768. Disarankan untuk tidak menggunakan Netbook.
3.Pastikan di komputer/laptop sudah terinstal web browser Firefox atau Chrome versi terbaru (tanpa plugin / tools tambahan)
4.Download Aplikasi DAPODIKMEN yang direkomendasikan/terbaru. Aplikasi dapat di download di http://202.92.204.193:8090
5. Download prefill untuk sekolah anda di http://202.92.204.194/prefill
6.Pastikan sudah memiliki Kode Registrasi sekolah.
7.Setting Waktu Lokal / Komputer  pilih GMT+07.00 untuk WIB (disesuaikan dengan zona waktu masing masing)
ROAD MAP DAPODIKMEN
2014:
-SKTP & Aneka Tunjangan
-BOS
-Rehab
2015:
-UN – Puspendik
-SNMPTN & SBMPTN
-Antar Jenjang (PDPT – Dapodikdas – Dapodikmen)
ALUR APLIKASI DAPODIKMEN

Alur Entry DAPODIKMEN

Untuk Penjelasan Yang Lebih, Tentang Aplikasi Pendataan DAPODIKMEN Ditjen Dikmen Kemdikbud,
berikut saya lampirkan beberapa Penjelasan tentang Aplikasi Pendataan DAPODIKMEN dan Manual Book Aplikasi Pendataan DAPODIKMEN.
1. (Draft) Panduan Teknis Penggunaan Aplikasi Dapodikmen Ditjen Dikmen Kemdikbud
2. Kebijakan Pendataan dan Penggunaan Teknis
3. Manual Book DAPODIKMEN (Sekolah Menengah Atas)
4. Manual Book DAPODIKMEN (Sekolah Menengah Kejuruan)5. Manual Book DAPODIKMEN (Sekolah Menengah Luar Biasa)

Cara Mendapatkan Buku Kurikulum 2013

Menindaklanjuti Pelaksanaan Implementasi kurikulum 2013, khusus jenjang pendidikan menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) telah selesai melaksanakan pengadaan calon penerbit Buku Kurikulum 2013, dan sebagai tindaklanjut terhadap hal tersebut telah diterbitkan Permendikbud Nomor 34 Tahun 2014 tanggal 2 Mei 2014 tentang Pembelian Buku Kurikulum 2013 oleh Sekolah.

Untuk mendukung Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) telah menerbitkan Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dengan Nomor : 10 Tahun 2014 tanggal 12 Mei 2014 tentang Pelaksanaan Pengadaan Buku Kurikulum 2013 melalui e-Purchasing.

Selain hal tersebut Direktur Jenderal Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga telah membuat Surat Edaran Dirjen Pendidikan Menengah dengan Nomor: 2744/D/PR/2014 tanggal 9 Mei 2014 tentang Surat Edaran Himbauan Pembelian Buku Kurikulum 2013 untuk jenjang SMA/SMK.

Dengan disampaikannya Permendikbud, Perka LKPP dan Surat Edaran Dirjen Pendidikan Menengah tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Kepala Sekolah Menengah Atas dan Kepala SMK seluruh Indonesia agar segera melakukan pemesanan buku kurikulum 2013 paling lambar 28 Mei 2014 untuk semester 1 tahun ajaran 2014/2015, dengan harapan buku tersebut dapat diterima dan digunakan tepat waktu pada tahun ajaran baru 2014/2015.

Mekanisme pembelian buku kurikulum 2013 dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Buku Kurikulum 2013 dijelaskan sebagaimana dalam lampiran. Surat Pemesanan, daftar judul buku, harga dan penyedia buku dapat diakses melalui laman http://e-katalog.lkpp.go.id/e-katalog-buku. Peraturan Menteri, Perka LKPP dan Surat Edaran Dirjen Pendidikan Menengah dapat di download pada link berikut:




Klik Gambar untuk memperjelas




Sunday, August 10, 2014

Salah Kaprah Kata SIAMO

Banyak sekali istilah asing yang dipakai dalam kegiatan kepalangmerahan, namun seringkali kita tidak tau apa artinya. Sebelum melangkah lebih jauh, berikut ini akan saya sampaikan beberapa istilah ;
  1. Siamo Tutti Fratelli” dari bahasa Italia yang artinya "Kita semua bersaudara" sumber klik disini dan klik disini
  2. Inter Arma Caritas” artinya adalah "Bantuan dalam peperangan" tetapi artinya kalau diterjemahkan secara harfiah adalah "Kita Semua Bersaudara". Merupakan semboyan dari ICRC (International Committee of the Red Cross) sumber klik disini  
  3. Per Humanitatem Ad Pacem” dari bahasa Latin yang artinya "Perdamaian melalui kemanusiaan" merupakan motto dari IFRC (International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies). sumber klik disini
  4. "Non siamo soli" dari bahasa italia artinya "Kita tidak sendirian" (we are not alone). Merupakan judul lagu dari Eros Ramazzotti dengan penyanyi Latin-pop Ricky Martin. sumber klik disini
  5. "Non camminerai mai solo" dari bahasa italia  artinya "Kamu tidak akan pernah berjalan sendirian" (you'll never walk alone) merupakan slogan dari Liverpool FC.
  6. "Protecting Human Dignity" dari bahasa inggris artinya "Melindungi martabat manusia" ,merupakan motto dari IFRC. sumber klik disini


SALAH KAPRAH
Kadang heran. Denger ada anak KSR, PMR, atawa PMI bersorak siamo. Padahal jelas sudah semboyan palang merah : SIAMO TUTTI FRATELLI yang artinya kita semua bersaudara (dalam bahasa Italia). Jadi kalo ada orang bilang “SIAMO!” saja berarti dia berteriak “KITA!”. Karena kita tahu siamo itu artinya kita kalau nggak percaya lihat saja di kamus (klik disini dan klik disini). Sedangkan tutti berarti semua. Kalau fratelli mmm…

Pernah denger ada permen atau makanan apalah yang rasanya tutti fruti? Nah itu artinya semua buah tapi boleh juga diartikan aneka buah. Sedangkan fratelli artinya ya bersaudara lah. Masih ingat Maximilliene de Robespiere saat revolusi Prancis menyerukan liberte, egalite, fraternite? ya fraternite dalam penggalan di atas artinya persaudaraan. Sepertinya fenomena pengambilan awal dari suatu motto, lagu, atau surat sebagai pekikan atau judul sudah mendarah daging.

Contoh lain mungkin bisa kita dapatkan dari lagu-lagu. Mungkin anda pernah mendengar lagu yang syairnya : “Padamu negeri kami berjanji, padamu negeri kami berbakti…” Bila anda mengatakan kalau lagu ini berjudul “Padamu Negeri” mungkin anda termasuk golongan yang ikut-ikutan latah dalam fenomena tersebut. Karena judul yang sebenarnya adalah “Bagimu Negeri” yang diciptakan oleh Kusbini. Begitu juga umat Islam khususnya di Jawa yang menyebut bagian dari Al Quran yaitu surat Al Ikhlas dengan sebutan “Qulhu” atau Al Kautsar dengan sebutan “inna a’thoina”. Wah.. sepertinya fenomena ini sudah mendarah daging.

Masihkah kita memekik “SIAMO”? Atau kita akan menghentikan kelatahan ini dengan alasan malu apabila bertemu dengan anggota palang merah dari negara lain akan menertawakan kita?. 

Beberapa rekomendasi dari penulis tentang ucapan salam saat berjumpa dengan relawan, yaitu pertama kita bisa menggunakan salam dengan bahasa kita sendiri (diperuntukuan untuk relawan yang nasionalis) misalkan "SALAM RELAWAN" "SALAM KSR" "SALAM KSR" SALAM TSR" SALAM PMR" "PMR PAGI" dan lain sebagainya dan kemudian dibalas menyesuaikan dengan si pemberi salam.
Rekomendasi kedua adalah kita tetap bisa menggunakan kata SIAMO tetapi dengan lengkap sesuai dengan slogan SIAMO TUTTI FRATELLI dan dibalas dengan SIAMO TUTTI FRATELLI. atau INTER ARMA CARITAS dan dibalas dengan INTER ARMA CARITAS.

Disadur dari berbagai sumber.

Thursday, July 31, 2014

Akhirnya Situs Berita Palsu Diblokir

Situs berita beralamat tambahan ”--news.com” yang memalsukan situs berita nasional, Rabu (30/7), sudah tidak bisa lagi diakses karena diblokir. Permintaan pemblokiran berasal dari Kementerian Komunikasi dan Informatika kepada penyedia jasa internet (ISP) melalui surat resmi.

”Tadi siang, pukul 12.00, sudah kami kirim surat permintaan kepada ISP agar nama domain tidak bisa diakses,” kata Ismail Cawidu, Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Dari penelusuran, ada 10 situs berita palsu. Alamatnya ditambahi ”--news.com” di belakang alamat situs berita nasional, misalnya kompas.com--news.com.

Situs yang dipalsukan itu adalah antaranews.com, beritasatu.com, detik.com, inilah.com, kompas.com, liputan6.com, merdeka.com, republika.com, tempo.co, dan tribunnews.com.

Alamat kompas.com dengan mudah diakses. Namun, alamat kompas.com--news.com saat diakses cuma halaman kosong. Padahal, saat diakses pada Selasa lalu, situs palsu itu masih memajang beberapa berita, tetapi diragukan kebenarannya.

Situs-situs berita palsu, lanjut Ismail, sejak Rabu sore tidak bisa diakses lagi. Pemblokiran atas dasar pengaduan dan laporan masyarakat. Situs palsu melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Menurut Ismail, pemblokiran harus melewati pengaduan dan pelaporan dari masyarakat serta surat permintaan kepada ISP. Prosesnya berbeda dengan pemblokiran situs pornografi/pornoaksi yang tak memerlukan pelaporan masyarakat.

Dugaan pelaku

Pakar teknologi informasi Onno Widodo Purbo melalui e-mail mengungkapkan, berdasarkan pengecekan dengan perintah Linux, yakni whois, pembuat --news.com diduga di Amerika Serikat.

”Hasil pengecekan saya sementara menunjukkan, kompas.com--news.com dipegang oleh orang California,” katanya.

Pelacakan dengan perintah whois relatif mudah untuk menemukan terduga pembuat subdomain palsu --news.com. Memblokir situs palsu mudah dilakukan, yang sulit justru menangkap pelaku di luar negeri. Diperlukan dukungan Kementerian Luar Negeri dan Interpol sebagai pihak yang bisa bergerak. Aksi Kemkominfo sebatas sisi teknis yang mencakup wilayah dalam negeri (domestik).

Menurut pakar digital forensik Ruby Alamsyah, pelaku bisa dilacak lewat alamat internet protocol (IP). Yang sulit ialah memburu pelaku dengan asumsi orang itu cepat menghilang.

Dilihat dari perspektif aturan, lanjut Ruby, kemunculan situs- situs berita bohong itu melanggar UU ITE. Selain itu, ada juga pelanggaran terhadap KUHP terkait penipuan dan fitnah.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, tim cyber crime masih menyelidiki situs-situs berita palsu itu. Pemilik dan atau pengelola situs berita nasional yang alamatnya dipalsukan sampai sekarang belum ada yang melapor ke Polri. Sejauh ini, belum ada pihak yang bisa dimintai keterangan.

sumber : kompas.com

Friday, July 25, 2014

HEBOH Gelar Ekskul PMR SMK Sawit

Merupakan rangkaian kegiatan Masa Orientasi Siswa Tahun Ajaran 2014/2015 di SMK Negeri 1 Sawit Kabupaten Boyolali. bertepatan pada bulan ramadhan 1435 H, namun hal ini tidak mengurangi semangat para siswa dan peserta didik baru untuk mengikuti kegiatan ini.
Gelar Ekskul merupakan ajang pertunjukan kebolehan masing masing ekskul, seperti apa yang telah dipelajari oleh mereka selama pelatihan rutin. Dalam hal ini ekskul PMR (Palang Merah Remaja) menampilkan adegan simulasi penanganan Gempa Bumi di sekolah yang ditampilkan oleh Anggota PMR kelas XI dan XII.
Berikut adalah cuplikan gelar tersebut